Simulasi Routing Policy pada Border Gateway Protocol

Simulasi Routing Policy pada Border Gateway Protocol (BGP) sebagai Exterior Gateway Protocol (EGP) dan Open Shortest Path First (OSPF) sebagai Interior Gateway Protocol (IGP) dalam Jaringan Indonesia Research and Education Network (IdREN)

SKRIPSI

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Disusun oleh:
ILHAM APRILIAN
13/350076/TK/41243

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INFORMASI
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO DAN TEKNOLOGI INFORMASI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
HALAMAN PENGESAHAN
Simulasi Routing Policy pada Border Gateway Protocol (BGP) sebagai Exterior Gateway Protocol (EGP) dan Open Shortest Path First (OSPF) sebagai Interior Gateway Protocol (IGP) dalam Jaringan Indonesia Research and Education Network (IdREN)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Teknik Program S-1
Pada Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada

Disusun oleh :
ILHAM APRILIAN
13/350076/TK/41243

Telah disetujui dan disahkan
pada tanggal 11 Juli 2018

Dosen Pembimbing I

Widyawan, S.T., M.Sc., Ph.D.
NIP 197312042002121001
Dosen Pembimbing II

Warsun Najib, S.T., M.Sc.
NIP 197311251998031003

HALAMAN PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak menerima bimbingan, ide, ataupun bantuan lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr.Eng. Suharyanto, S.T., M.Eng., selaku Ketua Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
2. Bapak Widyawan, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku dosen pembimbing pertama yang telah membantu memberikan saran dan masukan pada penulisan serta penelitian ini.
3. Bapak Warsun Najib, S.T., M.Sc. selaku dosen pembimbing kedua yang telah membantu memberikan saran dan masukan pada penulisan serta penelitian ini
4. Bapak Ir., P. Insap Santosa, M.Sc., Ph.D. selaku dosen pembimbing akademik yang telah membantu dan membimbing penulis selama masa kuliah.
5. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan DTETI FT UGM karena telah membantu dan membimbing penelus selama masa kuliah.
6. Keluarga Penulis Ibu, Ayah, dan Mamah yang selalu memberikan semangat penulis untuk cepat selesai mengerjakan penulisan ini.
7. Adik penulis Izzan, Auliya dan Sunan yang selalu menemani penulis ketika jenuh.
8. Sahabat penulis dari SMP hingga saat ini Nanda, Ipul, Ikhsan dan Iqbal yang selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul ketika penulis di Jakarta.
9. Sahabat penulis selama perkuliahan Fikry dan Ihsan yang selalu membantu penulis selama masa perkuliahan baik dalam akademis maupun non-akademis.
10. Teman-teman IT UGM 2013 Fadhol, Dhanu, Hirzi, Zaky yang selalu membantu penulis dalam tugas kelompok.
11. Teman-teman Kudeta Squad Waode, Anto, Dewi, Yudi dan Resti yang selalu menyempatkan waktu untuk makan bersama ketika akhir bulan.
12. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Yogyakarta, 20 Juni 2018

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ii
HALAMAN PERSEMBAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR SINGKATAN xvii
Intisari xxi
Abstract xxii
Bab I 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.4 Batasan Masalah 4
1.5 Sistematika Penulisan 5
BAB II 7
2.1 Tinjauan Pustaka 7
2.2 Dasar Teori 8
2.2.1 Jaringan Komputer 8
2.2.2 Topologi Jaringan 8
2.2.3 Tipe Jaringan Berdasarkan Area 10
2.2.4 IPv6 12
2.2.4.1 Format Header IPv6 12
2.2.4.2 Perbandingan IPv4 dengan IPv6 14
2.2.4.3 Fitur dan Kelebihan IPv6 14
2.2.4.4 Pengalamatan IPv6 15
2.2.4.5 Unicast, Anycast dan Multicast 16
2.2.4.6 Perkembangan IPv6 17
2.2.5 Routing 18
2.2.6 Autonomous System (AS) 22
2.2.7 IGP dan EGP 26
2.2.8 Open Shortest Path First (OSPF) 27
2.2.8.1 Shortest Path First Algorithm 28
2.2.8.2 Areas and Border Router 30
2.2.8.3 OSPF Message Format 30
2.2.9 Border Gateway Protocol (BGP) 32
2.2.9.1 Format Message Header BGP 33
2.2.9.2 Atribut BGP 36
2.2.9.3 Proses Pemilihan Jalur BGP 38
2.2.9.4 Multihoming 40
2.2.10 Indonesia Research and Education Network (IdREN) 41
2.2.11 Simulasi 44
2.2.12 Simulator Jaringan 45
2.2.12.1 Cisco Packet Tracer 45
2.2.12.2 Mininet 47
2.2.12.3 GNS3 48
2.2.13 Performa dan Kualitas Jaringan 50
BAB III 52
3.1 Sumber Data 52
3.2 Alat yang digunakan 52
3.2.1 Perangkat lunak 52
3.2.2 Perangakat keras 53
3.3 Diagram Alir Penelitian 54
3.4 Rancangan Topologi Jaringan 55
3.5 Rancangan Pengalamatan Jaringan 56
3.6 Konfigurasi OSPF 60
3.7 Rancangan Konfigurasi BGP 62
3.6.1 Konfigurasi iBGP pada Border Router 62
3.6.1 Konfigurasi eBGP pada seluruh Router 67
3.8 Konfogirasi Cost OSPF 70
3.9 Konfigurasi Atribut Weight 72
3.10 Konfigurasi Atribut Local preference 74
3.11 Rancangan Traffic Generator dalam Topologi 74
3.12 Rancangan Pengujian 75
BAB IV 77
4.1 Simulasi Pemilihan Jalur OSPF default, BGP default 77
4.1.1 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal 77
4.1.2 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover 83
4.2 Simulasi Pemilihan Jalur dengan adanya cost pada OSPF dan default BGP 92
4.2.1 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal 92
4.2.2 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover 97
4.3 Simulasi Pemilihan jalur dengan kondisi OSPF default dan BGP menggunakan atribut weight dan local preference 103
4.3.1 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal 103
4.3.2 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover 108
4.4 Simulasi pemilihan jalur dengan kondisi OSPF dengan menggunakan cost dan BGP menggunakan atribut weight dan local preference 114
4.4.1 Pemilihan jalur dari router UI menuju router ITS dengan Kondisi Normal 114
4.4.2 Pemilihan Jalur dari router UI menuju router ITS dengan Kondisi Failover 119
4.5 Rangkuman Simulasi 124
BAB V 126
5.1 Kesimpulan 126
5.2 Saran 127
Daftar pustaka 128
Lampiran 132

DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Perbandingan IPv6 dengan IPv4 14
Tabel 2. 2 ASN Peers yang terhubung dengan IdREN 23
Tabel 2. 3 Daftar ASN universitas di Indonesia 25
Tabel 2. 4 Perbandingan BGP dengan protokol routing lain 32
Tabel 2. 5 Protokol yang didukung Packet Tracer 47

Gambar 3. 1 Diagram alir penelitian 54
Gambar 3. 2 Topologi IdREN 56
Gambar 3. 3 Pengalamatan router IdREN 57
Gambar 3. 4 Topologi cost OSPF 72
Gambar 3. 5 Iperf Client 75

Tabel 4. 1 Jalur yang dilalui router UI menuju router ITS 80
Tabel 4. 2 Waktu konvergensi OSPF 82
Tabel 4. 3 Waktu konvergensi BGP 82
Tabel 4. 4 Jalur yang dilewati router UI menuju router ITS 89
Tabel 4. 5 Waktu konvergensi OSPF 96
Tabel 4. 6 Waktu konvergensi BGP 96
Tabel 4. 7 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS 100
Tabel 4. 8 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS 105
Tabel 4. 9 Tabel waktu konvergensi OSPF 107
Tabel 4. 10 Tabel waktu konvergensi BGP 107
Tabel 4. 11 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS 111
Tabel 4. 12 Jalur yang digunakan dari UI menuju ITS 116
Tabel 4. 13 Tabel waktu konvergensi OSPF 118
Tabel 4. 14 Tabel Waktu konvergensi BGP 118
Tabel 4. 15 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS 121

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Topologi Bus 9
Gambar 2. 2 Topologi Ring 9
Gambar 2. 3 Topologi Star 10
Gambar 2. 4 Topologi Mesh 10
Gambar 2. 5 LAN 11
Gambar 2. 6 MAN 12
Gambar 2. 7 Format Header IPv6 13
Gambar 2. 8 Hekstets 15
Gambar 2. 9 Jumlah Penggunaan IPv6 17
Gambar 2. 10 Penggunaan Ipv6 di Indonesia 18
Gambar 2. 11 Path vector protocol 21
Gambar 2. 12 IGP versus EGP Routing Protocols 27
Gambar 2. 13 Cost OSPF 29
Gambar 2. 14 Area border router 30
Gambar 2. 15 Format Fixed Header OSPF 31
Gambar 2. 16 iBGP dan eBGP 33
Gambar 2. 17 Format Message Header BGP 34
Gambar 2. 18 Format OPEN message 35
Gambar 2. 19 Atribut-atribut BGP 36
Gambar 2. 20 Algoritme pemilihan jalur pada BGP 39
Gambar 2. 21 Contoh konsep multihoming BGP 41
Gambar 2. 22 Infrastruktur IdREN saat ini 42
Gambar 2. 23 Arsitekrut IdREN di masa depan 43
Gambar 2. 24 IdREN Gate dan Node 2016 43
Gambar 2. 25 Tampilan antarmuka Cisco Packet Tracer 46
Gambar 2. 26 Tampilan antarmuka Mininet 48
Gambar 2. 27 Tampilan antarmuka GNS3 49

Gambar 3. 1 Diagram alir penelitian 54
Gambar 3. 2 Topologi IdREN 56
Gambar 3. 3 Pengalamatan router IdREN 57
Gambar 3. 4 Topologi cost OSPF 72
Gambar 3. 5 Iperf Client 75

Gambar 4. 1 Traceroute router UI ke ITS 76
Gambar 4. 2 Tabel routing UI menuju ITS 77
Gambar 4. 3 BGP routing table router UI 77
Gambar 4. 4 BGP routing table longer-prefix router UI 78
Gambar 4. 5 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS 78
Gambar 4. 6 tabel routing BGP UI-IdREN 79
Gambar 4. 7 tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 79
Gambar 4. 8 tabel routing ITS-IdREN menuju ITS 80
Gambar 4. 9 Jalur router UI menuju router ITS 81
Gambar 4. 10 Traceroute router UI menuju router ITS 83
Gambar 4. 11 Tabel routing router UI menuju ITS 84
Gambar 4. 12 tabel routing BGP UI menuju ITS 84
Gambar 4. 13 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju ITS 84
Gambar 4. 14 tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 85
Gambar 4. 15 Traceroute UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 86
Gambar 4. 16 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 86
Gambar 4. 17 tabel routing ITB-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 87
Gambar 4. 18 Tabel routing BGP ITB-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 87
Gambar 4. 19 Tabel routing BGP ITS-IdREN menuju ITS 88
Gambar 4. 20 tabel routing ITS-IdREN menuju ITS 88
Gambar 4. 21 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS 90
Gambar 4. 22 Traceroute dari router UI menuju router ITS 91
Gambar 4. 23 Tabel routing UI menuju ITS 92
Gambar 4. 24 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS 92
Gambar 4. 25 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 93
Gambar 4. 26 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 93
Gambar 4. 27 Alamat interface serial1/2 router UI-IdREN 94
Gambar 4. 28 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS 94
Gambar 4. 29 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS 95
Gambar 4. 30 Traceroute router UI menuju ITS 97
Gambar 4. 31 Tabel routing router UI menuju ITS 97
Gambar 4. 32 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS 98
Gambar 4. 33 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 98
Gambar 4. 34 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 99
Gambar 4. 35 Tabel routing Telkom-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 99
Gambar 4. 36 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS 100
Gambar 4. 37 Jalur yang digunakan router UI menuju Router ITS 101
Gambar 4. 38 Traceroute router UI menuju router ITS 102
Gambar 4. 39 Tabel routing router UI menuju ITS 103
Gambar 4. 40 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS 103
Gambar 4. 41 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback router ITS-IdREN 104
Gambar 4. 42 Tabel routing ITS-IdREN menuju router ITS 104
Gambar 4. 43 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS 106
Gambar 4. 44 Traceroute router UI menuju ITS 108
Gambar 4. 45 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS 108
Gambar 4. 46 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju router ITS 109
Gambar 4. 47 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 109
Gambar 4. 48 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback UB-IdREN 110
Gambar 4. 49 Tabel routing ITS-IdREN menuju router ITS 110
Gambar 4. 50 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS 112
Gambar 4. 51 Traceroute router UI menuju router ITS 113
Gambar 4. 52 Tabel routing router UI menuju router ITS 113
Gambar 4. 53 Tabel routing UI-IdREN menuju router ITS 114
Gambar 4. 54 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS 114
Gambar 4. 55 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback UB-IdREN 114
Gambar 4. 56 Tabel routing BGP ITS-IdREN menuju ITS 115
Gambar 4. 57 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS 115
Gambar 4. 58 Jalur router UI menuju router ITS 117
Gambar 4. 59 Traceroute router UI menuju router ITS 119
Gambar 4. 60 Tabel routing router UI menuju router ITS 119
Gambar 4. 61 Tabel routing router UI-IdREN menuju router ITS 119
Gambar 4. 62 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 120
Gambar 4. 63 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN 120
Gambar 4. 64 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback UB-IdREN 120
Gambar 4. 65 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS 121
Gambar 4. 66 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS 122
Gambar 4. 67 Jalur yang digunakan UI menuju ITS pada kondisi normal 123
Gambar 4. 68 Diagram Waktu rata-rata konvergensi OSPF dan BGP 124

DAFTAR SINGKATAN

A
ABR Area Boundary Router
ACK Acknowledgment
AD Administrative distance
AH Authentication Header
AS Autonomous System
ASBR Autonomous System Boundary Router
ASN Autonomous System Numer
B
BGP Border Gateway Protocol
C
CLI Command Line Interface
E
eBGP External Border Gateway Protocol
EGP Exterior Gatewal Protocol
ESP Encapsulation Security Payload
G
GNS3 Graphical Network Simulator 3
GUI Graphical User Interface
H
HAN Home Area Network
I
IANA Internet Assigned Number Authority
iBGP Internal Border Gateway Protocol
ID Identifier
IdREN Indonesian Research and Education Network
IETF Internet Engineering Task Force
IGP Interior Gateway Protocol
INHERENT Indonesia Higher Education and Research Network
IOS Internetworking Operating System
IP Internet Protocol
IPv4 Internet Protocol version 4
IPv6 Internet Protocol version 6
IR Internal Router
ISP Internet Service Provider
ITB Institut Teknologi Bandung
ITS Institut Teknologi Sepuluh November
L
LAN Local Area Network
M
MAN Metropolitan Area Network
MB Mega Byte
MED Multi Exit Discriminator
N
NREN National Research and Education Network
O
OSPF Open Shortest Path First
P
PAN Personal Area Network
PBR Policy Based Routing
Q
QoS Quality of Service
R
REN Research Education Network
RIP Routing Information Protocol
RFC Request for Comments
RTT Running Trip Time
T
TCP Transmission Control Protocol
TEIN Trans-Eurasia Information Network
TTL Time to Live
U
UB Universitas Brawijaya
UDP User Datagram Protocol
UGM Universitas Gadjah Mada
UI Universitas Indonesia
UNDIP Universitas Diponegoro
USU Universitas Sumatera Utara
UNTAN Universitas Tanjungpura
UNY Universitas Negeri Yogyakarta

W
WAN Wide Area Network

Intisari

IdREN adalah sebuah jaringan berskala besar yang digunakan untuk keperluan penelitian dan pendidikan di Indonesia yang mengubungkan universitas-universitas dari berbagai kota maupun pulau di indonesia. Setiap universitas memiliki administrasi teknis jaringan yang berbeda-beda atau biasa dikenal dengan Autonomous System (AS). Oleh karena itu dibutuhkan sebuah protokol routing exterior (EGP) yang dapat bekerja pada AS berbeda seperti Border Gateway Protocol (BGP). BGP merupakan sebuah routing dinamis yang dapat bekerja antar AS maupun didalam AS. Selain protokol routing EGP dibutuhkan pula routing IGP yang dinamis seperti Open Shortest Path First (OSPF) agar memudahkan administrator mengkonfigurasi jaringan IdREN yang masih dalah tahap pengembangan sehingga sangat mungkin jaringan mengalami perubahan topologi seperti penambahan atau pengurangan router. Kedua routing dinamis ini dibutuhkan karena memiliki sifat scalibility, dan dapat mengoptimalkan pengiriman paket sesuai kebijakan dari administrator jaringan.
Pada penelitian ini dilakukan simulasi jaringan IdREN menggunakan perangkat lunak simulator jaringan GNS3. Simulasi ini berfokus pada proses kerja dari OSPF dan BGP dalam pemilihan jalur. Perubahan cost pada routing OSPF dan atribut seperti weight dan local preferences dalam konfigurasi router untuk mengetahui pengaruhnya pada proses pemilihan jalur. Selain itu digunakan pula parameter background traffic untuk menghasilkan latency, packet loss dan jitter pada simulasi agar jaringan memiliki beban seperti pada kondisi real. Simulasi dilakukan dengan beberapa skenario berbeda seperti melakukan pengujian dengan menggunakan atribut BGP atau cost OSPF maupun tidak.
Penelitian ini memperlihatkan hubungan antara IGP menggunakan OSPF dan EGP menggunakan BGP untuk membangun jaringan IdREN dengan menerapkan cost dan routing policy. Selain itu dapat dilihat pula waktu konvergensi OSPF tercepat terdapat pada simulasi dengan skenario tanpa adanya perubahan pada cost OSPF dan atribut BGP yaitu sebesar 30,4743 detik. Sedangkan waktu konvergensi BGP tercepat terdapat pada skenario tanpa adanya perubahan cost OSPF namun terdapat perubahan pada atribut BGP yaitu sebesar 26,9101 detik

Kata kunci: IdREN, AS, OSPF, BGP, GNS3

Abstract

IdREN is a large network which is dedicated to research and education in Indonesia that connects universities from different cities and island in Indonesia. Each university has different network technical administration or known as Autonomous System (AS). Therefore it need an exterior gateway protocol (EGP) that can work on different AS like Border Gateway Protocol. BGP is a dynamic routing that can between AS although in the same AS. In addition to EGP, dynamic routing of IGP’s such as OSPF is required to make it easier for administrator to configure IdREN network that still in development stage which is possible that the network topology changes such as the addition or substraction of routers. Both dynamic routing is required because it has scalability and can optimize packet delivery according to the policy of the network administrator
In this research will be simulated IdREN network using network simulator software GNS3. This simulation will be focused on how is OSPF and BGP selected best path. The use cost of OSPF and attributes such as weight and local preference will be configured in router to determine the effect of the path selection process. In addition, the background traffic will be used to generate latency, packet loss and jitter on the network so that network has a load as real condition. The simulation will be done with several different scenarios such as testing with or without BGP’s attribute/OSPF’s cost.
This study shows the relationship between IGP using OSPF and EGP using BGP to build IdREN network by implementing cost and routing policy. It can also be seen as the fastest OSPF convergence time in the scenario without changing the cost of OSPF and BGP attributes that is equal to 30,4743 s. While the BGP convergence time is fastest in the scenario without changing the OSPF’s cost, but there is a change in the BGP’s attribute that is equal to 26,9101 s.

Keywords : IdREN, AS, OSPF, BGP, GNS3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
National Research and Education Network (NREN) merupakan sebuah jejaring khusus antar perguruan tinggi nasional untuk pertukaran data penelitian dan juga sebagai tempat protokol dan teknologi baru diuji coba sebelum digunakan untuk publik. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas penelitian dan pendidikan di Indonesia, Pemerintah melalui Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Indonesia membangun jejaring NREN ini yang dikenal dengan IdREN (Indonesian Research and Education Network). IdREN merupakan sebuah jaringan yang digagas oleh 5 perguruan tinggi negeri yang memiliki 5 gateway di masing-masing perguruan tinggi negeri tersebut serta satu gateway tambahan yang dimiliki oleh PT.Telekomunikasi Indonesia (Telkom) sebagai pemberi fasilitas telekomunikasi untuk jaringan IdREN 1. Kelima perguruan tinggi negeri yang menjadi penggagas dari IdREN adalah Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya dan Institut Teknologi Sepuluh November.
NREN tidak hanya dimiliki oleh Indonesia. NREN ini dimiliki oleh negara-negara lain di dunia yang tergabung dalam TEIN (Trans Eurasia Information Network). IdREN terhubung dengan TEIN melalui gateway yang berada di ITB. Dalam teorinya IdREN terdiri dari 6 buah border router yang berfungsi sebagai gateway yang akan terhubung dengan node-node universitas lain. Node tersebut merupakan jaringan lokal milik universitas anggota IdREN. Sehingga konfigurasi dan pengelolaannya dilakukan oleh masing-masing universitas tersebut sehingga memiliki administrasi teknis yang berbeda antar node satu dengan node yang lain atau biasa dikenal dengan sebutan Autonomous System (AS) 2. Untuk menghubungkan antar AS yang dimiliki tiap universitas dibutuhkan routing protocol khusus yang dapat berjalan pada AS yang berbeda-beda.
Routing merupakan teknik yang digunakan dalam membangun sebuah jaringan agar router dapat saling berkomunikasi. Routing sendiri memiliki arti proses pemilihan rute dalam pengiriman paket data dari suatu alamat asal ke alamat tujuan, yang menggunakan parameter/metric dalam menentukan jalur yang akan dilewati. IdREN merupakan sebuah jaringan berskala nasional yang tergolong sebagai Wide Area Network (WAN). Jaringan WAN menggunakan routing dinamis sebagai protokol routing utamanya, yang dapat membuat administrator tidak perlu mengkonfigurasi seluruh alamat yang ingin dituju oleh tiap perangkat dan apabila terdapat penambahan atau perubahan perangkat, jaringan akan melakukan konvergensi tabel routing secara otomatis. IdREN merupakan jaringan berskala besar yang memiliki AS yang berbeda-beda antar satu router atau sub-jaringan terhadap router atau sub-jaringan lainnya. Sehingga dibutuhkan sebuah protokol routing khusus yang dapat bekerja pada AS yang berbeda, protokol ini dikenal sebagai Border Gateway Protocol (BGP).
BGP merupakan protokol routing yang memungkinkan pertukaran informasi antar AS maupun didalam AS yang memiliki algoritme tersendiri dalam pemilihan jalur yang akan digunakan dalam proses pertukaran informasi AS tersebut. Sebagai Policy Based Routing (PBR), administrator jaringan dapat menentukan kebijakan dalam penentuan atau pemilihan jalur melalui atribut-atribut yang dimiliki BGP seperti weight, local preference, AS-path, origin dan multi-exit discriminator yang dapat memunculkan perbedaan gateway yang akan dilewati.
Selain itu terdapat pula routing yang berjalan didalam AS. Routing ini digolongkong pada kelompok routing Interior Gateway Protocol (IGP). Salah satu contoh dari routing ini adalah Open Shortest Path First (OSPF). OSPF merupakan sebuah routing IGP dinamis yang menggunakan cost dalam penentuan jalur yang digunakannya. Semakin kecil cost yang digunakan, semakin besar kemungkinan jalur digunakan. Nilai cost pada router dapat di atur secara langsung maupun hasil kalkulasi dari bandwidth yang digunakan jalur tersebut.
Dalam penelitian ini dilakukan simulasi untuk melakukan pengujian pada topologi jaringan IdREN terhadap pengaruh atribut-atribut yang ada pada BGP sebagai protokol routing yang berjalan berdasarkan kebijakan administrator atau Policy Based Routing (PBR) dan Open Shortest Path First (OSPF) sebagai Interior Gateway Protocol (IGP) yang memiliki cost pada tiap interfacenya. Simulasi dilakukan dengan beberapa skenario yaitu ketika seluruh gateway berfungsi secara normal dan ketika terdapat salah satu gateway yang mati. Selain itu pada simulasi ini ditambahkan parameter seperti traffic yang akan menghasilkan packet loss, latency dan jitter pada hasil pengujian, agar kondisi jaringan IdREN memiliki beban mendekati kondisi aslinya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang muncul dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana routing policy diterapkan pada topologi jaringan IdREN.
2. Bagaimana pengaruh OSPF dalam topologi IdREN
3. Bagaimana peran dari atribut-atribut yang ditambahkan dalam routing policy tersebut dalam pemilihan jalur dengan parameter tambahan seperti background traffic
4. Bagaimana proses penerapan failover jika terdapat salah satu gateway yang mati.
5. Bagaimana performa dari simulasi jaringan IdREN berdasarkan waktu konvergensi.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dan manfaat penelitian ini meliputi:
1. Merancang dan menguji topologi IdREN menggunakan protokol routing OSPF dan BGP.
2. Memahami proses pemilihan jalur berdasarkan atribut-atribut BGP seperti weight, local preference dan cost pada OSPF dengan diberikan parameter background traffic untuk menyebabkan adanya latency dan packet loss dalam jaringan.
3. Menguji penerapan failover pada kondisi jaringan ketika terdapat salah satu gateway yang mati.
4. Mengetahui performa dari simulasi jaringan IdREN yang menerapkan routing policy maupun tidak berdasarkan waktu konvergensi OSPF dan BGP.
1.4 Batasan Masalah
Agar pembahasan masalah dalam penetian ini tidak menyimpang dari apa yang telah ditentukan serta untuk menyederhanakan masalah yang akan diamati maka diperlukan batasan-batasan masalah yang akan dipecahkan. Berikut adalah batasan-batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Simulasi jaringan ini menggunakan perangkat lunak GNS3 2.1.0.
2. Router yang digunakan dalam simulasi ini adalah router Cisco 3660 seri c3600. Dengan versi IOS 12.4.
3. Topologi yang diuji adalah topologi IdREN dengan nomer AS sesuai dengan yang dimiliki tiap universitas tanpa menyertakan jaringan dari masing-masing universitas.
4. Protokol routing yang digunakan adalah BGP untuk antar AS berbeda dan OSPF pada AS gateway router IdREN.
5. Pengalamatan menggunakan IPv6 agar memiliki alokasi alamat yang lebih banyak untuk dapat digunakan
6. Menggunakan parameter traffic agar menghasilkan latency, packet loss dan jitter pada proses simulasi untuk memberikan hasil yang mendekati kondisi asli IdREN.
7. Pengujian performa hanya berdasarkan waktu konvergensi BGP dan OSPF yang terjadi dan tidak mengkaji mengenai cara peningkatan performa tersebut
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini memuat mengenai latar belakang masalah dari penelitian, rumusan masalah yang didapat, batasan masalah yang digunakan, tujuan penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
Bab ini memuat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang dapat digunakan sebagai tinjauan dalam menjalankan penelitian ini dan juga memuat teori-teori yang memiliki relevansi dengan skripsi dan penelitian ini. Teori-tori yang dimuat dapat dijadikan dasar pengetahuan terhadap penelitian ini
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini memuat langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian seperti pengambilan sumber data, alat yang digunakan dalam penelitian, rancangan alur penelitian, rancangan topologi jaringan, rancangan pengalamatan, rancangan konfigurasi routing protocol serta rancangan pengujian yang dilakukan.
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi hasil simulasi dan pengujian terhadap skenario yang diteliti serta analisis dan pembahasan yang didapatkan dari pengujian.

BAB V : PENUTUP
Bab ini memuat kesimpulan akhir dari penelitian yang telah dilakukan dan memberikan saran-saran yang perlu disampaikan agar penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanju.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai BGP telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa orang, diantaranya dilakukan oleh Pilihanto (2008). Penelitian tersebut melakukan perbaikan routing dengan melakukan perpindahan dari routing statis menjadi routing dinamis ke BGP, Namun penelitian tersebut tidak melakukan konfigurasi pada atribut yang dimiliki BGP, sehingga pemilihan jalur hanya berdasarkan pada atribut default yang dimiliki BGP yaitu AS_path. Penelitian ini tidak meneliti bagaimana pengaruh atribut utama pada BGP seperti weight, local preference dan atribut lainnya.
Peneliti lainnya yang meneliti mengenai BGP adalah Indah (2014), pada penelitiannya simulasi BGP dilakukan dengan membuat jaringan tidak nyata yang menghubungkan beberapa universitas semu yang memiliki nomer AS private. Pada penelitian ini digunakan atribut weight dan local preference di dalam routing policy, namun pengalamatan yang dilakukan masih menggunakan IPv4. Setelah itu penelitian ini dilanjutkan oleh Ramadhan (2015) dengan mensimulasikan jaringan nyata NREN yang dulu dikenal dengan nama INHERENT (Indonesia Higher Education Network). Pada penelitian ini telah digunakan IPv6 tetapi yang digunakan dalam routing policy hanya satu atribut yaitu weight. Selain itu pada simulasi tidak menggunakan parameter tambahan seperti traffic generator yang berfungsi untuk membuat router memiliki beban traffic seperti pada kondisi real saat melakukan simulasi.
Kemudian terdapat pula penelitian BGP yang dilakukan oleh Fikry (2017), pada penelitian ini simulasi menggunakan sudah menggunakan IPv6 dan telah menggunakan 2 atribut BGP yaitu weight dan local preference. Namun pada penelitian ini routing IGP (Interior Gateway Protocol) masih menggunakan routing statis.
Penelitian ini melanjutkan penelitian sebelum-sebelumnya yaitu dengan menggunakan routing OSPF (Open Short Path First) sebagai IGP (Interior Gateway Protocol) dan BGP (Border Gateway Protocol) sebagai EGP (Exterior Gateway Protocol) yang diharapkan dapat lebih memudahkan administrator dalam mengelola jaringannya. Selain itu akan digunakan pula atribut weight dan local preference di dalam routing policy agar dapat memberikan hasil yang lebih terperinci dalam pemilihan jalur routing, serta akan dilakukan pula pengalamatan dengan menggunakan IPv6 karena saat ini sudah dimulainya migrasi dari IPv4 menuju IPv6 3. Topologi yang disimulasikan merupakan topologi milik IdREN yang masih dalam tahap pengembangan, yang merupakan NREN pengganti INHERENT yang sudah tidak aktif lagi.
2.2 Dasar Teori
2.2.1 Jaringan Komputer
Jaringan komputer adalah suatu sistem terdistribusi yang dapat saling berkomunikasi yang terdiri dari beberapa komputer maupun perangkat lain, dimana terdapat bagian yang bekerja sebagai transmitter dan sisi lainnya sebagai receiver. Perangkat ini saling berkomunikasi melalui suatu medium dengan menggunakan suatu protokol tertentu yang harus disetujui oleh perangkat dalam jaringan tersebut 4.
2.2.2 Topologi Jaringan
Topologi jaringan atau arsitektur jaringan adalah gambaran perencanaan hubungan antarkomputer dalam suatu jaringan yang menggunakan media transmisi (biasanya menggunakan kabel). Beberapa contoh topologi adalah sebagai berikut:
1. Topologi Bus
Topologi ini merupakan bentangan satu kabel yang kedua ujungnya ditutup, dimana di sepanjang kabel terdapat node-node untuk sebuah perangkat yang akan terhubung ke jaringan. Signal dalam kabel ini hanya dilewati satu arah, sehingga memungkinkan sebuah collision terjadi.

Gambar 2. 1 Topologi Bus 4

2. Topologi Ring
Topologi jaringan ini berupa lingkaran tertutup yang berisi node-node. Signal mengalir dua arah sehingga dapat mengindarkan terjadinya collision.

Gambar 2. 2 Topologi Ring 4
3. Topologi Star
Topologi ini adalah node yang berkomunikasi langsung dengan node lain melalui central node yang berupa hub atau switch. Jika salah satu node terputus tidak akan mempengaruhi node lain

Gambar 2. 3 Topologi Star 4
4. Topologi Mesh
Topologi ini menghubungkan setiap node terhubung secara langsung dengan node lain melalui kabel atau nirkabel sehingga jika terdapat salah satu node atau jalur yang mati, terdapat jalur pengganti yang dapat digunakan. Topologi ini cocok untuk kondisi jaringan yang memiliki traffic tinggi.

Gambar 2. 4 Topologi Mesh 4
2.2.3 Tipe Jaringan Berdasarkan Area
Berdasarakan luas area-nya jaringan komputer dibagi kedalam 4 kategori, diantaranya adalah Personal Area Network, Local Area Network, Metropolitan Area Network dan Wide Area Network 5.
1. Personal Area Network (PAN) adalah jaringan komputer yang mencakup satu bangunan yang diorganisir oleh satu orang, biasanya di dalam kantor atau rumah. Biasanya PAN terdiri dari satu komputer, telpon, konsol video game atau perangkat lain. Jika terdapat lebih dari satu orang yang menggunakan jaringan dalam satu rumah, maka jaringan tersebut menjadi home Area network (HAN).
2. Local Area Network adalah jaringan komputer yang dibatasia oleh area lokal yang relatif kecil seperti dalam suatu gedung atau ruangan dalam sekolah. Biasanya jangkauan area LAN hanya sampai 200 meter. LAN sangat berguna untuk saling berbagi koneksi perangkat lunak seperti printer. LAN dapat dibangun dengan peralatan yang tidak terlalu mahal seperti hub dan kabel Ethernet.

Gambar 2. 5 LAN 4
3. Metropolitan Area Network (MAN) merupakan jaringan komputer yang terdiri dari beberapa LAN biasanya jaringan yang dibangun dari beberapa jaringan antar gedung yang terhubung. Contohnya adalah jaringan bank di suatu kota yang terhubung dengan jaringan bank yang berada di kota lain.

Gambar 2. 6 MAN 4
4. Wide Area Network (WAN) adalah jaringan dengan skala yang sangat luas, bisa mencakup jaringan antar Negara bahkan benua. Jaringan ini biasanya terhubung menggunakan media nirkabel seperti satelit atau kabel serat optik. Salah satu contoh WAN yaitu IdREN milik Indonesia dan TEIN.
2.2.4 IPv6
Pada tahun 1980 akhir, IPv4 dirasa mulai tidak akan mencukupi kebutuhan internet pada masa mendatang dikarenakan hanya dapat menampung alamat sebanyak 32 bit, maka pada awal tahun 1990 dimulai pengembangan generasi selanjutnya dari internet protokol oleh Internet Engineering Task Force (IETF) 6. IPv6 secara resmi diperkenalkan sebagai generasi lanjutan dari IPv4 pada tahun 1998 dan disertai dengan diluncurkannya dokumen mengenai IPv6 yang bernama RFC 2460 7.
2.2.4.1 Format Header IPv6
Paket data IPv6 terdiri dari 2 bagian utama yaitu header dan payload dengan total panjang 40 oktet dimana 1 oktet terdiri dari 8 bit yang akan diisi oleh field-field yang mengidentifikasikan suatu paket.

Gambar 2. 7 Format Header IPv68
Gambar 2.7 di atas merupakan format header dari IPv6 dimana terdapat 8 bagian yang berbeda. 3 dari 8 bagian di atas sama seperti IPv4 yang merupakan basic field atau field dasar yang sama dengan header IPv4 dan 5 field tambahan yang hanya ada pada header IPv6. Berikut adalah field dalam header IPv6 7:
1. Version (4 bit): merupakan field yang berisi versi dari IP protokol yang digunakan, karena yang digunakan IPv6 maka nilai dari version akan selalu 6 (0110).
2. Traffic class (8bit): atau Packet priority adalah field yang memungkinkan pengirim mengidentifikasi nilai prioritas dari paket yang akan dikirimkan dibandingkan dengan paket paket lain yang akan dikirim.
3. Flow label (20bit): atau QoS management merupakan field yang digunakan oleh pengirim untuk memberi label pada rangkaian paket yang memerlukan penanganan khusus.
4. Payload Length (16 bit): adalah field yang menunjukan seberapa panjang payload yang mengikuti header.
5. Next header (8 bit): field ini mengidentifikasi tipe header yang akan mengikuti header IPv6 utama.
6. Hop limit (8 bit): atau Time To Live (TTL) pada IPv4 merupakan sejenis counter yang berisikan nilai tertentu dan akan terus berkurang setiap melewati satu node. Saat counter bernilai 0 maka paket otomatis akan dibuang.
7. Source address (128 bit): merupakan field yang menunjukan alamat asal dari paket.
8. Destination address (128 bit): merupakan field yang menunjukan alamat tujuan dari paket.
2.2.4.2 Perbandingan IPv4 dengan IPv6
Berikut adalah perbandingan antara IPv4 dengan Ipv6 dalam bentuk tabel:
Tabel 2. 1 Perbandingan IPv6 dengan IPv4
IPv6 IPv4
Panjang alamat 128 bit Panjang alamat 32 bit
Alamat merupakan bilangan biner dalam bentuk heksadesimal Alamat merupakan bilangan biner dalam bentuk desimal
IPSec IPSec bersifat opsional
Tidak mendukung broadcast karena menggunakan banyak bandwidth Masih mendukung broadcast
Tidak ada field checksum pada header Terdapat field checksum pada header
IPv6 hanya mempunyai 8 field IPv4 mempunyai 13 field

2.2.4.3 Fitur dan Kelebihan IPv6
Pemilihan penggunaan IPv6 dikarenakan terbatasnya IPv4 dan sedang dilakukannya migrasi IP dari IPv4 ke IPv6, namun selain itu terdapat beberapa fitur dan kelebihan lain yang ditawarkan oleh IPv6 diantaranya sebagai berikut 9:
1. Ruang alamat yang lebih besar untuk reachability global dan skalabilitas.
2. Arsitektur jaringan hirarkis untuk efisiensi routing.
3. Format header disederhanakan dalam penanganan paket lebih efisien.
4. Autoconfiguration dan mendukung plug-and-play (PnP).
5. Mendukung berbagai protokol routing yang dapat digunakan.
6. Autoconfiguration dan mendukung plug-and-play (PnP).
7. Peningkatan mendukung untuk mobile IP dan mobile computing devices.
8. Faktor keamanan menggunakan Packet Encryption (ESP: Encapsulating Security Payload) dan Source Authentication (AH: Authentication Header).
9. Meningkatkan jumlah alamat multicast.
10. Kualitas layanan (QoS)
2.2.4.4 Pengalamatan IPv6
IPv6 memiliki panjang alamat 128 bit yang artinya dapat menampung sebanyak 2128 halaman, jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan IPv4 yang hanya 32 bit. IPv4 dalam penulisannya dilakukan dengan angka desimal dari 0 hingga 255 yang dibagi kedalam 4 oktet, sedangkan pada IPv6 dalam penulisannya menggunakan angka heksadesimal yang dibagi ke dalam 8 heksatet.

Gambar 2. 8 Hekstets 10
Terdapat 3 cara penulisan alamat pada IPv6, diantaranya:
1. Bentuk yang lebih sering digunakan adalah x:x:x:x:x:x:x:x, dimana “x” adalah bilangan heksadesimal yang berjumlah satu hingga empat digit. Contohnya : 2403:8000:10:fffe:0:0:12:1
2. Bentuk selanjutnya adalah Penyederhanaan dari bentuk yang pertama, dimana pada IPv6 akan sering ditemukan angka 0 yang berderet panjang sehingga penulisan menjadi tidak efisien. Oleh karena itu angka 0 yang berderet panjang harus didefinisikan dengan symbol lain untuk mengganti deretan angka 0 yang panjang tersebut. Deret 0 dapat digantikan dengan symbol “::” tetai hanya satu symbol “::” yang diperbolehkan untuk mengganti penulisan dalam sebuah alamat. Selain itu angka 0 yang terdapat pada awalan heksatet dapat dihilangkan dan heksatet yang berisikan angka “0000” dapat dipersingkat menjadi “0”. Contohnya:
2403:0800:0000:0000:0005:08AB:FFFE:102C
2403:0800:0000:0000:0005:08AB:FFFE:102C
2403:800:0:0:5:8AB:FFFE:102C
2403:800: :5:8AB:FFFE:102C
3. Bentuk alterntif ini menyisipkan angka desimal di dalam penulisan IPv6 jika format seharusnya x:x:x:x:x:x:x:x, maka pada format ini bisa menjadi x:x:x:x:x:x:d.d.d.d dimana “d” merupakan angka decimal. Contohnya: 0:0:0:0:0:0:0:13.1.68.3.
2.2.4.5 Unicast, Anycast dan Multicast
IPv6 memiliki 3 jenis pengalamatan. Berikut adalah 3 jenis pengalamatan yang dimiliki IPv6:
1. Unicast: adalah alamat unik yang mengidentifikasikan suatu interface pada perangkat yang menggunakan IPv6. Paket yang dikirimkan ke alamat unicast akan sampai ke interface yang teridentifikasi oleh alamat tersebut.
2. Anycast: adalah pengalamatan yang mirip dengan unicast, namun bedanya adalah alamat unicast digunakan oleh beberapa interface dan setiap paket yang dikirim ke alamat anycast akan terkirim ke interface anggota yang terdekat sesuai dengan protokol routing yang digunakan.
3. Multicast: digunakan untuk mengidentifikasikan sekumpulan grup interface. Paket yang dikirimkan ke alamat multicast akan sampai ke seluruh interface yang diidentifikasikan dengan alamat tersebut.
2.2.4.6 Perkembangan IPv6
IPv6 adalah protokol internet yang akan menjadi pengganti dari IPv4 yang saat ini sudah mulai tidak mencukupi. Pada Juni 2018 tercatat jumlah situs yang menggunakan Ipv6 di dunia baru mencapai 23,65% dari seluruh situs yang ada 3.

Gambar 2. 9 Jumlah Penggunaan IPv6 3
Di Indonesia sendiri penggunaan IPv6 masih sangat sedikit dengan presentase pnegguna hanya sekitar 0.13% jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan adopsi Ipv6 di India yang sekitar 31,72% dan Malaysia yang sudah sekitar 27,07% per bulan Juni 2018 3.

Gambar 2. 10 Penggunaan Ipv6 di Indonesia 11
2.2.5 Routing
Routing adalah teknik yang digunakan agar paket dapat melewati jalur jalur terbaik untuk mencapai tujuan. Proses routing menggunakan layer 3 (Network Layer) dalam OSI layer untuk pertukaran informasi 12. Routing bekerja dengan cara bertukar informasi untuk membangun sebuah routing tables yang akan di gunakan untuk mencari jalur terbaik. Metode routing sendiri terbagi menjadi dua, yaitu routing statis dan routing dinamis
a. Routing Statis
Routing statis merupakan roting yang dilakukan untuk kondisi jaringan yang tetap atau statis, dimana hanya terjadi sedikit atau bahkan tidak ada perubahan pada jaringannya. Routing statis dilakukan dengan cara mengkonfigurasi secara manual satu per satu perangkat yang dikelola administrator agar dapat terhubung dengan jaringan. Routing ini biasa digunakan pada jaringan berskala kecil. Walaupun memiliki beberapa kekurangan, routing statis merupaka metode routing paling aman karena dilakukan secara langsung oleh administrator jaringan sehingga dapat dipercaya dibandingkan dengan protokol routing lain. Hal ini dibuktikan dengan nilai administrative distance sebesar 1.
b. Routing Dinamis
Routing dinamis merupakan kebalikan dari routing statis. Routing ini lebih mudah dalam melakukan konfigurasi perangkat yang memilik skala jaringan yang luas dan bersifat dimanis, dimana jaringan sering mengalami perubahan jaringan baik penambahan maupun pengurangan perangkat. Selain itu routing ini tidak harus melakukan konfigurasi satu per satu oleh administrator jaringan, cukup mengkonfigurasi di titik-titik tertentu dan sisanya akan ada algoritme khusus yang akan menukarkan informasi routing sesuai dengan protokol yang digunakan13. Berikut ini beberpa contoh algoritme yang banyak diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Distance Vector Protocol
Distance vector protocol merupakan protokol routing paling tua, protokol ini menggunakan beberapa pendekatan algoritme dalam penerapannya seperti algoritme Bellman-ford yang digunakan pada Routing Informating Protocol (RIPv1 dan RIPv2) dan Diffusing Update Algorithm (DUAL) yang digunakan oleh protokol routing cisco yaitu Enhanced Interior Gateway Protocol (EIGRP) 14.
Distance vector protocol menggunakan jarak dan arah sebagai acuan dalam menentukan jalur mana yang akan dilewatkan. Beberapa karakteristik protokol ini adalah 15:
• Protokol ini akan mengirimkan advertisement untuk mempertahankan table routing-nya dengan interval waktu yang tetap (30 detik untuk RIP dan 90 detik untuk EIGRP) walaupun tidak ada perubahan dalam tabel routing
• Protokol ini selalu dipercaya oleh node terdekat karena informasi table routing yang diterima sangat bergantung pada router tetangga atau biasa dikenal dengan istilah routing by rumor, sehingga setiap update tabel routing yang diberikan akan selalu diterima. Akibatnya akan ada kemungkinan terjadinya infinite loop jika suatu saat terjadi kesalahan dalam isi tabel routing.
• Saat melakukan update akan selalu mengirimkan seluruh tabel routing yang dimilikinya. Oleh karena itu bandwidth yang dibutuhkan akan sangat besar, ditambah dengan update yang dilakukan secara broadcast.
• Ketika terdapat interface yang mati atau terjadi penambahan network maka akan langsung dilakukan update (triggered update).

2. Link State Protocol
Link state protocol merupakan algoritme yang biasa digunakan pada IS-IS dan OSPF. Algoritme ini mengandalkan tiap router yang ada di dalam suatu jaringan untuk melakukan advertise dari kondisi hubungan di tiap sambungan, yang nantinya akan menghasilkan sebuah peta topologi jaringan yang utuh atau yang disebut dengan shortest path tree14.
Penentuan rute ini adalah dengan melihat titik yang memiliki total nilai cost (nilai yang dapat diatur oleh administrator jaringan untuk mencapai suatu router) terendah.
Protokol ini bekerja dengan cara membuat Link State Packet (LSP) yang berisi informasi tentang jaringan yang terhubung langsung (directly conncected) seperti neighbor ID, link type dan bandwidth oleh tiap router dan akan dikirimkan ke seluruh tetangga dari router tersebut hingga seluruh router menerima LSP dari masing-masing router yang ada di dalam jaringan. Berdasarkan data LSP yang sudah didapatkan, tiap router akan membuat peta topologi dari jaringannya sehingga dalam pengiriman paket, dapat diketahui rute mana yang mempunyai cost paling sedikit diantara yang lain. Berbeda dengan distance vector yang melakukan update tiap periode waktu tertentu, penyebaran LSP hanya dilakukan saat startup oleh router dan saat adanya perubahan dalam topologi jaringan sehingga lebih efisien dibandingkan dengan protokol distance vector.
3. Path Vector Protocol
Path vector protocol merupakan protokol terbaru jika dibandingkan dengan dua protokol sebelumnya yaitu distance vector dan link state. Protokol ini merupakan pengembangan dari protokol distance vector yang memiliki beberapa kelemahan seperti looping, infinite count dan informasi table routing yang tidak selalu akurat.
Protokol ini menjamin tidak akan ada looping dengan cara merekam tiap hop dari routing advertisement yang melintasi jaringan 14. Cara kerja path vector dapat dilihat pada gambar 2.11 berikut:

Gambar 2. 11 Path vector protocol 14
Dalam kasus di atas router A akan mengirimkan advertisement bahwa ia telah terhubung dengan jaringan 10.1.1.0/24 kepada router B. Kemudian router B akan menambahkan dirinya kedalam advertisement dari router A dan mengirimkannya kembali ke router C, kemudian router C juga akan menambahkan dirinya ke dalam advertisement yang dikirim oleh router B kemudian dikirimkan ke router D hingga jaringan 10.1.1.0/24 dapat tercapai oleh router D. Kemudian router D juga menambahkan dirinya ke dalam advertisement yang dikirimkan oleh router C lalu mengirimkannya ke router A. Namun router A akan menolak advertisement ini karena dirinya telah berada di dalam isi advertisement tersebut. Begitu juga saat router D mengirimkan advertisement ke router B akan selalu ditolak karena dirinya telah berada di dalam advertisement tersebut. Hal inilah yang akan menghindari terjadinya looping 14.
Path vector biasanya digunakan sebagai algoritme dalam penentuan jalur pada protokol routing EGP (Exterior Gateway Protocol) seperti BGP dimana pertukaran informasi routing dilakukan antar Autonomous System (AS) berbeda.
2.2.6 Autonomous System (AS)
Autonomous System (AS) atau biasa dikenal dengan routing domain adalah sekumpulan jaringan atau router yang berada pada satu administrasi teknis yang sama seperti kebijakan routing dan alamat prefix yang sejenis, biasanya dimiliki oleh satu ISP maupun instansi atau perusahaan besar yang terhubung dengan ISP atau instansi lain. AS menggunakan IGP (Interior Gateway Protocol) dalam merutekan paket-paket yang akan dikirim di dalam AS tersebut dan EGP untuk merutekan paket yang dikirim antar AS 2. AS direpresentasikan menggunakan nomor yang disebut AS Number (ASN) antara 1- 65.535 yang sudah ditentukan oleh IANA terhadap kepemilikan dari tiap nomor tersebut 16. Pada IdREN dari 50 universitas yang sudah terhubung, ada 30 jaringan universitas yang sudah memiliki ASN nya sendiri. Selain universitas yang telah bergabung, IdREN sendiri memiliki ASN tersendiri yaitu AS64302, begitu pula INHERENT yang dulu merupakan NREN milik Indonesia menggunakan AS18007. Berikut adalah beberapa daftar ASN yang terhubung dengan IdREN dan sudah terdaftar di situs https://bgp.he.net/AS64302#_peers per tanggal 6 juni 2018:
Tabel 2. 2 ASN Peers yang terhubung dengan IdREN
Rank Description IPv6 Peer
1 INHERENT X AS18007
2 Universitas Negeri Yogyakarta X AS55674
3 Universitas Nusa Cendana AS136059
4 Bogor Agricultural University AS17553
5 Universitas Muhammadiyah Malang AS46057
6 Institut Seni Indonesia Surakarta AS136866
7 Universitas Malikussaleh AS137299
8 UIN AR-RANIRY AS137300
9 Universitas Hang Tuah AS137327
10 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahin (UIN Maliki) AS131781
11 Universitas Ahmad Dahlan AS132642
12 Universitas Islam Negeri Suska Riau AS133844
13 Universitas Hasanuddin AS134614
14 Politeknik Negeri Sriwijaya X AS46047
15 Institut Teknologi Sumatera AS45318
16 Universitas Negeri Padang AS63499
17 Universitas Negeri Semarang AS58400
18 Universitas Sebelas Maret AS55684
19 Universitas Pendidikan Indonesia AS18394
20 TELKOM UNIVERSITY AS133357
21 Universitas Jember AS132678
22 Universitas Negeri Surabaya AS58822
23 Universitas Negeri Medan AS58824
24 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya X AS132645
25 Universitas Tadulako AS131763
26 Politeknik Negeri Padang AS133335
27 Universitas Udayana AS58375
28 Syiah Kuala University (Unsyiah) AS63510
29 Politeknik Manufaktur Negeri Bandung AS133805
30 Universitas Sumatera Utara AS55697
31 Institut Seni Indonesia Yogyakarta AS63876
23 Universitas Negeri Medan AS58824
24 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya X AS132645
25 Universitas Tadulako AS131763
26 Politeknik Negeri Padang AS133335
27 Universitas Udayana AS58375
28 Syiah Kuala University (Unsyiah) AS63510
29 Politeknik Manufaktur Negeri Bandung AS133805
30 Universitas Sumatera Utara AS55697
31 Institut Seni Indonesia Yogyakarta AS63876
32 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi AS133826
33 Universitas Negeri Makassar AS135481
34 Universitas Negeri Jakarta AS131703
35 UNIVERSITAS SAM RATULANGI X AS136070
36 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang AS64316
37 Universitas Islam Negeri Mataram AS136077
38 IAIN Imam Bonjol Padang AS136104
39 Institut Teknologi Sepuluh Nopember AS38331
40 PPTIK – UNIVERSITAS GADJAH MADA X AS45705
41 Universitas Brawijaya X AS46019
42 Universitas Diponegoro X AS46049
43 Kantor Sistem Informasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta X AS55680
44 PetraNet, Surabaya, Indonesia X AS45304
45 Universitas Tanjungpura AS55687
46 Universitas Airlangga AS38142

Berdasarkan tabel 2.2 di atas, sudah ada 46 jaringan universitas yang terhubung dengan IdREN, dimana baru 9 jaringan yang telah menerapkan IPv6. Berdasarkan sumber dari hasil rapat IdREN pada tanggal 10 Agustus 2016, hingga Jni 2016 sudah terdapat 29 universitas yang memiliki ASN sendiri diantaranya adalah 17:
Tabel 2. 3 Daftar ASN universitas di Indonesia 17
No Node (ASN) Provinsi
1 UNY (55674) Yogyakarta
2 POLSRI (46047) Sumatera Selatan
3 UNSRI (132676) Sumatera Selatan
4 UNEJ (132678) Jawa Timur
5 UI (3382) Jawa Barat
6 ITB (4796) Jawa Barat
7 UB (46019) Jawa Timur
8 UGM (45705) Yogyakarta
9 ITS (33831) Jawa Timur
10 UNTAN (55687) Kalimantan Barat
11 UNG (132660) Gorontalo
12 USU (55697) Sumatera Utara
13 UAD (132642) Yogyakarta
14 UMY (58818) Yogyakarta
15 UAJY (55680) Yogyakarta
16 USD (55672) Yogyakarta
17 STIKUBANK (59138) Jawa Tengah
18 POLMAN (133805) Jawa Barat
19 TELKOM Univ. (133357) Jawa Barat
20 UNSYAH (63510) Aceh
21 ISI (63876) Yogyakarta
22 UINSUSKA (133844) Riau
23 UNRI (56254) Riau
24 UNDIP (46049) Jawa Tengah
25 UIN-Malang (131781) Jawa Timur
26 UKSW (134627) Jawa Tengah
27 UNLAM (58475) Kalimantan Selatan
28 UNHAS (134614) Sulawesi Selatan
29 UNILA (56237) Lampung

2.2.7 IGP dan EGP
Routing dapat pula digolongkan menjadi 2 berdasarkan konsep Autonomous System (AS). Berikut adalah pembagian routing berdasarkan hubungannya dengan AS 18:
a. Interior Gateway Protocol (IGP) adalah protokol yang bekerja di dalam AS. Sehingga proses pertukaran informasi routing hanya terjadi didalam satu autonomous system. IGP biasanya digunakan pada jaringan skala kecil seperti perusahaan, sekolah, bisnis dan universitas. Beberapa contoh routing bekerja pada satu AS adalah seperti Routing Information Protocol (RIP), Interior Gateway Routing protocol (IGRP), Enhanced Interior Gateway Routing protocol (EIGRP), Open Shortest Path First (OSPF) dan IS-IS.
b. Exterior Gateway Protocol (EGP) adalah protokol yang bekerja antar AS yang berbeda yang berada pada admnistrasi teknis yang berbeda pula. Sehingga proses penukaran informasi berada pada router antar AS. Contoh dari EGP adalah Border Gateway Protocol (BGP). BGP merupakan sebuah path vector protocol yang dapat menggunakan beberapa atribut berbeda untuk menentukan jalur mana yang akan dilewati. BGP biasanya digunakan pada level ISP atau antar perusahaan berbeda.

Gambar 2. 12 IGP versus EGP Routing Protocols 18
2.2.8 Open Shortest Path First (OSPF)
Open Shortest Path First (OSPF) adalah salah satu routing protokol yang termasuk dalam kategori Interior Gateway Protocol (IGP) 19. Routing ini merupakan routing yang dikembangkan untuk jaringan Internet Protocol (IP) pada grup protokol IGP oleh Internet Engineering Task Force (IETF). OSPF merupakan juga merupakan salah satu contoh dari Link-state routing yang didefinisikan pada RFC2328. OSPF merupakan perkembangan dari algoritme bellman-ford seperti yang digunakan RIP. Berikut ini adalah beberapa keunggulan OSPF dibandingkan dengan RIP 20:
a. OSPF tidak memiliki limit pada hop count seperti RIP, RIP memiliki nilai limit hop count sebesar 15. Jika router yang dilewati lebih dari 15 maka paket akan dibuang (unreachable).
b. OSPF mendukung VLSM
c. OSPF menggunakan multicast untuk mengirimkan link-state updates. Hal ini menyebabkan proses yang terjadi pada router berkurang. Update hanya akan terjadi ketika terjadi perubahan pada routing sehingga pemakaian bandwidth lebih baik.
d. OSPF dapat berkonvergensi lebih cepat karena terjadi sesaat terjadinya perubahan sedangkan RIP melakukan perubahan secara periodik.
e. OSPF dapat melakukan load balancing dengan lebih baik
OSPF adalah sebuah protokol link-state, link yang dimaksud seperti interface pada sebuah router dan state dari link tersebut adalah deskripsi dari interface tersebut dan hubunganya dengan router tetangganya. Deskripsi dari interface dapat berupa alamat IP address dari interface, net-mask, jaringannya terhubung ke mana maupun router tersebut terhubung dengan jaringan yang mana. Seluruh link-state ini disebut link-state database.
2.2.8.1 Shortest Path First Algorithm
Seperti protokol routing link-state lainnya, OSPF mempunya beberapa fitur 21:
• Advertisement : mengirim seluruh routing tabel, setiap router akan mengirim routing tabel yang dia miliki kemudian mengirimkannya kembali ke router tetangganya
• Flooding : setiap router mengirim informasi ke semua router pada seluruh jaringan, tidak hanya pada router tetangganya saja. Setiap router akan mengirim pesan ke tetangganya dan setiap router akan menerima paket dan membuat salinan paket tersebut lalu mengirimnya kembali ke tetangganya hingga semua router memiliki salinan informasi yang sama.
• Active response : setiap router akan mengirimkan informasi ketika terjadinya perubahan
OSPF menggunakan algoritme Shortest Path First (SPF) untuk membuat dan menghitung jalur terpendek ke semua tujuan yang router tersebut ketahui. SPF menggunakan algoritme Djikstra untuk menemukan jalur terpendeknya. Berikut ini adalah langkah yang dilakukan pada SPF algorithm 20:
• Ketika terjadinya inisiasi (saat pertama kali router menyala) atau saat terjadinya perubahan informasi routing, router akan membangkitkan link-state advertisement. Advertisement ini merupakan representasi dari kumpulan seluruh link-state pada router.
• Kemudian setiap router akan saling bertukar informasi link-state dengan cara flooding. Setiap router yang menerima update haru menyimpan salinannya pada link-state database dan mengirimnya kembali ke router lain
• Setelah database pada seluruh router lengkap atau seluruh router telah memiliki database yang sama, router akan mengkalkulasi sebuah pohon (Shortest Path Tree) yang berisi ke seluruh tujuan router. Router menggunakan algoritme Djikstra untuk menghitung pohon terpendek. Algoritme menghitung cost dan next hop untuk mencapai tujuan dari tabel routing IP.
• Jika tidak terjadi perubahan pada jaringan OSPF seperti penambahan atau pengurangan jaringan, OSPF akan sangat pasif. Setiap perubahan akan selalu di informasikan melalui link-state packet dan algoritme Djikstra akan menghitung ulang untuk mencari jalur terpendek.
OSPF menggunakan cost atau biasa disebut metric pada interface merupakan acuan untuk mengirimkan paket melalui interface tersebut. Nilai cost selalu berbanding terbaling dengan bandwidth yang digunakan interface tersebut. Semakin besar bandwidthnya maka nilai costnya akan semakin kecil.

Gambar 2. 13 Cost OSPF
Secara umum, cost pada interface dapat dihitung melalu bandwidth, namun cost dapat pula didefinisikan pada interface dengan menggunakan perintah “ip ospf cost ” pada mode sub-konfigurasi interface.
2.2.8.2 Areas and Border Router
Area adalah sekumpulan jaringan, host dan router yang semuanya terdapat pada satu AS. Setiap area dalam suatu AS harus memiliki area spesial yang disebut backbone area. Router yang berada pada backbone area disebut backbone router. Area lain yang terdapat pada satu AS harus terhuhung memiliki hubungan langsung dengan backbone router 22.
OSPF menggunakan flooding untuk saling bertukan link-state updates antar router. Area digunakan untuk menahan ledakan dari link-state update. Proses flooding dan algoritme djikstra akan dibatasi oleh areanya. Semua router pada satu area akan memiliki link-state database yang sama. Router yang berada pada area lebih dari satu dan terhubung dengan backbone area disebut Area Border Router (ABR). Sedangkan sekumpulan router yang berada pada satu area disebut dengan Internal Router (IR). Selain itu terdapat pula router yang bekerja sebagai gateway (redistribution) antara protokol OSPF dan routing lain seperti BGP disebut dengan Autonomous System Boundary router (ASBR) 20.

Gambar 2. 14 Area border router 20
2.2.8.3 OSPF Message Format
OSPF memiliki bermacam-macam format pesan yang digunakan, namun terdapat beberapa format yang selalu digunakan pesan-pesan OSPF yang biasa dikenal dengan Fixed Header. Fixed Header merupakan header yang digunakan seluruh paket OSPF yang berukuran 24-byte.

Gambar 2. 15 Format Fixed Header OSPF 21
• Version number : berisi versi yang digunakan OSPF
• Type : mengidentifikasikan salah satu paket OSPF
o Hello Packet : paket yang menjalin untuk mengelola neighbor relationships
o Database Description : paket yang berisikan topological database. Pesan ini akan dikirim ketika telah terjadinya adjacency.
o Link-State request : pesan yang dikirim ketika router menginginkan rute yang spesifik. Pesan ini dikirim sebagai balasan untuk database description.
o Link-State Update : pesan balasan untuk Link-state request
o Link-State Ack : Ack link-state updates packet
• Message length : menentukan panjang paket, termasuk OSPF header
• Source Router IP Address : mengidentifikasi asal paket
• Area ID : berisikan informasi di area mana paket berada
• Checksum : mendeteksi adanya eror pada paket
• Autentication type : berisikan tipe otentikasi yang digunakan
• Authentication : berisikan informasi otentikasi.
• Data : berisikan informasi dari layer transport
2.2.9 Border Gateway Protocol (BGP)
IdREN adalah jaringan yang berskala besar yang menghubungkan beberapa universitas yang berada pada berbagai macam pulau di indonesia dan masing masing universitas memiliki administrasi teknis yang berbeda-beda, oleh karena itu dibutuhkan suatu protokol routing yang dapat menghubungkan antar Autonomous System (AS) berbeda tersebut. Protokol yang dapat melakukanya disebut Border Gateway Protokol (BGP). Selain itu dengan rencana pengembangan IdREN yang akan menggunakan 2 atau lebih ISP atau multihoming dalam menunjang performa jaringan, BGP menjadi protokol routing yang tepat untuk mengelola jaringan ini. Berikut adalah table perbandingan BGP dengan protokol routing lainnya.
Tabel 2. 4 Perbandingan BGP dengan protokol routing lain
Protokol Routing Lingkup Kerja Skala Kompatibilitas Multihoming
BGP Antar Autonomous System Jaringan skala besar Semua perangkat Mendukung
OSPF Dalam Autonomous System Jaringan skala menengah Semua perangkat Tidak mendukung
RIP Dalam Autonomous System Jaringan skala menengah Semua perangkat Tidak mendukung
EIGRP Dalam Autonomous System Jaringan skala menengah Hanya perangkat Cisco Tidak mendukung

BGP memainkan peran penting dalam pembentukan komunikasi di internet. BGP memungkinkan terjadinya pertukaran informasi dalam jaringan antar AS maupun didalam AS. BGP merupakan protokol satu satunya yang dapat bekerja antar AS yang merupakan pengembangan dari EGP. BGP menggunakan TCP port 179 dalam proses pengiriman paket.
BGP sendiri terdiri dari 2 jenis, yaitu Internal BGP (iBGP) dan External BGP (eBGP). iBGP berperan dalam pertukaran informasi routing di dalam AS sedangkan eBGP berperan dalam pertukaran informasi antar AS. Berikut adalah gambar ilustrasi iBGP dan eBGP:

Gambar 2. 16 iBGP dan eBGP 23
2.2.9.1 Format Message Header BGP
Pesan yang dikirim BGP akan dikirim melalu koneksi TCP dengan menggunakan port 179. Pesan hanya akan diproses jika seluruh informasinya sudah diterima. Besaran maksimum dari suatu pesan yang dapat di kirim adalah adalah 4096 oktet sedangkan besar minimum pesan yang bisa di kirim adalah 19 oktet 2.

Gambar 2. 17 Format Message Header BGP 2
Berdasarkan gambar 2.17 di atas header pesan pada BGP terdiri dari 3 field, yaitu marker, length dan type2. Marker adalah field berukuran 16 oktet yang biasanya bernilai 1 dan berisi informasi yang menunjukan apakah pengirim dan penerima masih tersinkronisasi atau tidak, apabila penerima menerima nilai selain 1 maka sudah terjadi kesalahan sehingga penerima akan mengirimkan peringatan eror dan memutus koneksi. Sedangkan field length berukuran 2 oktet yang berisi panjang dari pesan BGP dimana panjang minimumnya adalah 19 oktet dan maksimum 4096 oktet. Field type berukuran 1 oktet berisikan keterangan dari jenis pesan yang dibawa apakah OPEN, UPDATE, NOTIFICATION atau KEEPALIVE 24.
1. OPEN Message
Saat koneksi TCP terbangun pesan yang pertama kali dikirimkan adalah OPEN dimana pengirim dan penerima akan saling mengirimkan pesan ini. Dalam field type pada format pesan BGP, pesan yang berjenis OPEN akan bernilai 1. Pesan ini berisi informasi penting dari konfigurasi BGP speaker. Adapun format OPEN message adalah sebagai berikut:

Gambar 2. 18 Format OPEN message 2
Field pertama yaitu Version berukuran 1 oktet berisi versi dari BGP yang digunakan, karena saat ini BGP yang aktif adalah versi BGP4 maka nilainya akan selalu 4. Selanjutnya field My Autonomous System berukuran 2 oktet berisi nomor AS dari pengirim. Field Hold Time berukuran 2 oktet berisi waktu maksimum dari masa idle suatu sesi sebelum akhirnya akan putus karena timeout, idle merupakan kondisi dimana router tidak akan membuat sesi BGP dan jika router tetangga mencoba untuk membuat sesi baru, koneksi TCP nya akan ditolak. BGP Identifier berukuran 4 oktet berisi identitas berupa alamat IP dari BGP speaker. Kemudian field Opt Parm Len bersifat opsional yang menunjukan ada atau tidaknya optional parameters, dan field terakhir yaitu Optional Parameters berisi kumpulan parameter tambahan yang digunakan 24.
2. UPDATE Message
Pesan ini digunakan untuk mentransfer informasi routing antar BGP peers. Informasi dari pesan ini dapat dibentuk menjadi sebuah grafik yang menunjukan hubungan antar AS yang berbeda. Pada field type utama UPDATE message akan bernilai 2.
3. NOTIFICATION Message
Pesan ini hanya dikirimkan jika kondisi error terdeteksi dan akan menyebabkan terputusnya koneksi BGP. Pada field type utama NOTIFICATON message bernilai 3.
4. KEEPALIVE Message
Pesan ini berfungsi selayaknya mekanisme keep alive yang ada pada TCP untuk terus memperbarui hold time agar tidak habis (expired). Nilai dari pesan ini biasanya satu pertiga dari nilai hold time. Pada field type utama pesan berjenis ini bernilai 4.
2.2.9.2 Atribut BGP
Border Gateway Protocol merupakan Policy Based Routing yang bekerja berdasarkan atribut-atribut yang dimilikinya, jika pada protokol routing lain dikenal dengan sebutan metric, RIP menggunakan hop, OSPF menggunakan cost, sedangkan IS-IS menggunakan bandwidth. BGP memiliki beberapa atribut yang terbagi menjadi 4 kategori 25.

Gambar 2. 19 Atribut-atribut BGP 25
1. Well-Known Mandatory
Atribut ini harus dikenali oleh seluruh router BGP, harus ada pada seluruh BGP Updates Messege dan harus dilewatkan router BGP lain. Atribut ini terdiri dari AS path, next hop dan origin.
2. Well-Known Discretionary
Atribut ini harus dikenali oleh seluruh router BGP dan dilewatkan ke router BGP yang lain tetapi tidak perlu ada di dalam UPDATE messege. Atribut ini antara lain adalah Local preferences dan Automic Aggregate.
3. Optional Transitive
Atribut ini bisa dikenali atau tidak dikenali oleh router BGP tetapi harus tetap dilewatkan ke BGP peers, contohnya adalah aggregrator dan community
4. Optional non-Transitive
BGP mungkin mengenali atribut ini dan tidak harus dilewatkan ke BGP peers. Contoh atribut ini adalah multi exit discriminator (MED) dan originator.
Berdasarkan kategori di atas terdapat beberapa atribut penting yang biasa digunakan antara lain adalah local preference, AS path, next hop, Multi Exit Discriminator (MED) dan origin 26.
• Local preference merupakan atribut yang termasuk dalam katagori well-known discretionary dimana atribut ini harus selalu ada di dalam pesan UPDATE yang diberikan oleh BGP speakers kepada peers internal. BGP akan selalu memilih nilai local preference yang paling tinggi. Pada perangkat cisco nilai maksimum dari atribut ini adalah 4294967295 namun jika tidak dilakukan konfigurasi nilai dasar atribut ini adalah 100 27.
• As path merupakan atribut yang termasuk dalam well-known mandatory sehingga harus dikenali oleh setiap router. Atribut ini menyimpan kumpulan nomor AS yang berada di dalam informasi routing dan sudah dilewati oleh pesan UPDATES.
• Next hop merupakan atribut well-known mandatory yang menentukan alamat IP dari router yang harus digunakan sebagai next hop sesuai ke tujuan yang terdapat pada pesan UPDATE
• Multi Exit Discriminator (MED) adalah atribut yang digunakan untuk antar AS. Atribut ini bergunakan untuk membedakan atau memisahkan multiple entry points yang masuk kedalam satu AS.
• Origin merupakan tempat asal dari rute BGP baik itu rute yang berasal dari router IGP, maupun router BGP lainnya. Walaupun termasuk kategori mandatory, atribut ini tidak benar-benar memiliki fungsi dalam penerapannya.
Selain atribut di atas, terdapat satu buah atribut khusus yang hanya dimiliki oleh perangkat Cisco, yaitu weight. Pada perangkat Cisco weight merupakan atribut pertama yang akan dilihat dalam menentukan jalur terbaik. Bobot weight berkisar 0-65535 dimana nilai terbesar yang akan dipilih sebagai jalur terbaik.
2.2.9.3 Proses Pemilihan Jalur BGP
BGP sebagai Policy Based Routing dalam pemilihan jalurnya tidak terlepas dari kebijakan administrator. Administrator BGP dapat mengkonfigurasi nilai-nilai pada atribut agar pemilihan jalur dapat dilakukan sesuai keinginan administrator. Untuk urutan algoritme pemilihan jalur pada BGP adalah sebagai berikut 28.

Gambar 2. 20 Algoritme pemilihan jalur pada BGP28
1. Pada perangkat Cisco, atribut yang akan pertama kali dilihat adalah weight. Router akan memilih jalur dengan nilai weight yang paling besar.
2. Pada perangkat selain Cisco, atribut yang pertama kali dilihat adalah local preference, namun atribut ini akan dicek setelah atribut weight saat perangkat yang digunakan adalah cisco. Router akan beralih dari weight ke local preference jika weight bernilai sama pada 2 atau lebih jalur. Router akan memilih AS dengan local preference yang paling besar.
3. Kemudian ketika local preference bernilai sama, router akan memilih default route. Kondisi ini berlaku hanya pada router cisco saja.
4. Jika router tidak memiliki default route, atribut yang akan dicek selanjutnya adalah AS path. Router akan mencari AS path yang paling pendek.
5. Atribut selanjutnya yang akan dicek adalah Origin. Router akan memilih jalur yang berasal dari IGP dibandingkan jalur yang berasal dari EGP. Kondisi ini juga hanya berlaku pada perangkat cisco
6. Atribut yang akan dicek selanjutnya adalah Multi Exit Discriminator (MED). Router akan memilih jalur dengan nilai MED yang paling kecil.
7. Jika Router memiliki nilai MED yang sama, maka router akan memilih jalur eksternal(e-BGP) daripada jalur internal (iBGP).
8. Kemudian jika router masih memiliki jalur yang sama, maka akan dipilih jalur yang paling dekat dengan IGP neighbor.
9. Jika jaraknya masih sama, maka jalur dengan router ID BGP paling kecil yang akan dipilih. Router ID adalah alamat IP yang didaftarkan ke loopback interface atau alamat IP paling tinggi yang ada pada interface yang aktif.

2.2.9.4 Multihoming
Multihoming adalah kondisi dimana router atau jaringan terhubung dengan lebih dari satu ISP. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan backup dan mempertahankan jaringan agar dapat berfungsi dengan normal saat salah satu ISP mati atau biasa dikenal dengan istilah redundancy. BGP merupakan protokol yang digunakan untuk membuat koneksi multihoming 10.

Gambar 2. 21 Contoh konsep multihoming BGP 24
2.2.10 Indonesia Research and Education Network (IdREN)
IdREN adalah salah satu contoh dari NREN (National Research Education Network) yang berupa jaringan dengan komunikasi data berkecepatan tinggi yang diperuntukkan untuk kebutuhan komunitas pendidikan dan penelitian yang berskala nasional. NREN memungkinkan peneliti, tenaga pengajar dan mahasiswa untuk saling berbagi informasi secara digital dengan sangat cepat dan juga memungkinkan untuk bekerja bersama secara efisien 29. NREN dikelompokkan ke dalam regional-regional yang diatur oleh satu organisasi khusus seperti GEANT yang merupakan kumpulan NREN di kawasan eropa, RedCLARA di kawasan Amerika Latin, TEIN3 di kawasan Asia-Pasifik, CAREN di kawasan Asia Tengah EUMEDCONNECT2 di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah dan Ubuntu Net Alliace di kawasan Afrika Selatan dan Afrika Timur. NREN bukan digunakan untuk organisasi nonprofit karena biasanya pengembangan nya dilakukan melalui pendanaan Negara dan dikelola oleh organisasi nonprofit seperti DANTE yang mengelola GEANT, yang merupakan jaringan REN kawasan eropa yang menghubungkan lebih dari 40 juta pengguna di lebih dari 40 negara di eropa 29.
IdREN sendiri merupakan jaringan yang digagas pada tahun 2015 untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia. IdREN merupakan NREN baru milik Indonesia. Sebelumnya Indonesia memiliki NREN yang bernama INHERENT namun sudah berhenti beroperasi sejak tahun 2013. IdREN mengubungkan antar institusi penelitian dan pendidikan serta universitas sebagai sarana pertukaran data penelitian dan pendidikan serta dapat pula dijadikan sebagai tempat uji coba protokol atau teknologi baru sebelum diimplementasikan ke publik.
IdREN digagas oleh 5 perguruan tinggi yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Universitas Brawijaya (UB) dimana kelima perguruan tinggi tersebut berperan sebagai border gateway dan ditambah satu gateway yang dimiliki oleh PT. Telekomunikasi Indonesia sebagai penyedia fasilitas telekomunikasi yang membentuk jaringan IdREN. Keenam gateway tersebut akan menjadi titik yang akan menghubungkan universitas-universitas lain yang akan bergabung dengan IdREN.

Gambar 2. 22 Infrastruktur IdREN saat ini 30
IdREN saat ini hanya menggunakan satu ISP sebagai fasilitator jaringan, namun dalam pengembangannya direncanakan akan menambahkan 2 ISP sebagai fasilitator IDREN. Untuk itu diperlukan protokol BGP yang mendukung konsep multihoming sehingga jaringan IdREN dapat terkoneksi ketika terdapat salah satu ISP mati.

Gambar 2. 23 Arsitekrut IdREN di masa depan 1
IdREN tidak terhubung dengan internet tetapi dapat mengakses NREN milik negara-negara lain melalui sambungan dengan TEIN (Trans Eurasia Information Network) yang terhubung melalui gateway milik ITB. Hingga Agustus 2016 sudah ada lebih dari 50 universitas yang terhubung dengan IdREN 1.

Gambar 2. 24 IdREN Gate dan Node 2016 17
Berdasarkan Gambar 2.24 di atas, IdREN menggunakan topologi mesh yang setiap routernya saling terhubung secara langsung sehingga membentuk jaringan IdREN. Tujuan penggunaan topologi mesh adalah agar ketika terjadi gangguan pada salah satu jalur atau interface-nya, jaringan tetap bisa hidup tanpa ada gangguan karena memiliki banyak jalur alternatif lain yang dapat digunakan. Istilah ini dikenal dengan failover. Selain itu berdasarkan gambar 2.24 di atas jumlah bandwidth yang dialokasikan untuk IdREN berbeda-beda tergantung posisinya, untuk gateway diberikan bandwidth 100-500 Mbps dan untuk node-node yang terhubung akan memiliki bandwidth yang berbeda pula. Sedangkan khusus untuk gateway ITB diberikan bandwidth sebesar 622 Mbps karena terhubung secara langsung ke TEIN3.
2.2.11 Simulasi
Menurut khosnevis (1994) simulasi adalah suatu proses membangun model dari sistem nyata atau usulan sistem, melakukan eksperimen dengan model tersebut untuk menjelaskan perilaku sistem, mempelajari kinerja sistem atau untuk membangun sistem baru sesuai dengan kinerja yang diinginkan. Sedangkan menurut Hoover dan Perry (1990), simulasi adalah proses perancangan model matematis atau logis dari sistem nyata, melakukan eksperimen dengan model dengan menggunakan komputer untuk menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi perilaku sistem.
Simulasi dilakukan sebagai cara bagi perancang, pengembang sistem maupun pembuat keputusan untuk menciptakan sistem kinerja tertentu baik dalam tahap perancangan sistem (berupa usulan) maupun sistem yang berada dalam tahap operasional (sistem yang sedang berjalan).
Berikut beberapa kelebihan simulasi dibandingkan dengan percobaan secara langsung:
1. Tidak semua sistem dapat direpresentasikan dalam model matematis.
2. Dapat bereksperimen tanpa adanya resiko pada sistem nyata.
3. Dapat menggunakan input data alternatif
4. Simulasi dapat mengestimasi kinerja sistem pada kondisi tertentu dan dapat memberikan alternative desain.
5. Hemat biaya dan waktu pengerjaan.
2.2.12 Simulator Jaringan
Perancangan jaringan memilki tingkat kesulitan yang beragam, untuk membangun sebuah jaringan berskala luas atau WAN memiliki kesulitan yang tinggi dan juga memerlukan sumber daya yang besar, seperti banyaknya perangkat jaringngan yang dibutuhkan seperti router, switch, server dan lainnya. Untuk itu diciptakanlah perangkat lunak yang dapat digunakan untuk mensimulasikan proses-proses dalam perancangan jaringan. Saat ini sudah terdapat banyak simulator jaringan yang biasa digunakan, baik untuk penelitian, uji coba maupun tujuan lainnya. Simulator yang biasa digunakan untuk simulasi jaringan antara lain adalah Cisco Packet Tracer, GN3 dan Mininet.
2.2.12.1 Cisco Packet Tracer
Cisco Packet Tracer adalah perangkat lunak simulasi jaringan yang diciptakan oleh Cisco (perusahaan IT dan jaringan asal Amerika Serikat) yang dapat digunakan untuk membuat topologi jaringan yang terdiri dari perangkat-perangkat seperti router, switch, server dan lainnya yang merupakan produk Cisco. Packet Tracer biasa digunakan oleh pelajar maupun mahasiswa yang ingin mempelajari jaringan dalam lingkup lab virtual. Packet Tracer tidak disebarkan secara umum namun dapat didapatkan secara gratis khusus bagi siswa Cisco Networking Academy.

Gambar 2. 25 Tampilan antarmuka Cisco Packet Tracer
Cisco Packet Tracer merupakan perangkat lunak yang sangat berguna bagi seseorang yang ingin mendapatkan sertifikasi dari Cisco atau sekedar belajar mengenai jaringan computer, karena terdapat banyak IOS yang tersedia dalam simulator ini. Selain itu Packet Tracer mendukung GUI (Graphical User Interface) dan hanya membutuhkan spesifikasi computer dengan RAM sebesar 512 MB 31, sehingga akan memudahkan bagi orang-orang yang baru mempelajari jaringan komputer. Namun simulator ini memiliki beberapa kekurangan dibandingkan simulator lainnya, antara lain keterbatasan dalam penggunaan perangkat, simulator ini hanya mendukung produk Cisco, tidak dapat mensimulasikan produk lain seperti Mikrotik, JunOS maupun perangkat milik vendor lain. Selain itu lingkup simulasi terbatas di dalam simulator saja, tidak dapat dihubungkan dengan jaringan nyata yang terhubung ke host. Packet Tracer hanya mendukung beberapa protokol saja, diantaranya adalah sebagai berikut:
Tabel 2. 5 Protokol yang didukung Packet Tracer 31
Layer Protokol yang didukung Packet Tracer
Application FTP , SMTP, POP3, HTTP, TFTP, Telnet, SSH, DNS, DHCP, NTP, SNMP, AAA, ISR VOIP, SCCP config and calls ISR command support, Call Manager Express
Transport TCP and UDP, TCP Nagle Algorithm ; IP Fragmentation, RTP
Network BGP, IPv4, ICMP, ARP, IPv6, ICMPv6, IPSec, RIPv1/v2/ng, MultiArea OSPF, OSPFv3, EIGRP, EIGRPv6, Static Routing, Route Redistribution, Multilayer Switching, L3 QoS, NAT, CBAL, Zone-based policy firewall and Intrusion Protection System on the ISR, GRE VPN, IPSec VPN, HSRP, CEF
Network Access / Interface Ethernet (802.3), 802.11, HDLC, Frame Relay, PPP, PPPoE, STP, RSTP, VTP, DTP, CDP, 802.1q, PAgP, L2 QoS, SLARP, Simple WEP, WPA, EAP, VLANs, CSMA/CD, Etherchannel, DSL, ¾ G network support
2.2.12.2 Mininet
Mininet adalah perangkat lunak simulator jaringan yang diciptakan oleh kumpulan professor di Stanford University sebagai alat penelitian dan media pengajaran jaringan komputer 32. Sama seperti GNS3, Mininet merupakan perangkat lunak open source yang dapat digunakan oleh publik, namun Mininet hanya dapat berjalan pada sistem operasi Linux saja.

Gambar 2. 26 Tampilan antarmuka Mininet
Kelebihan Mininet adalah dalam mensimulasikan sotware-defined network (SDN), karena simulator ini menciptakan jaringan virtual OpenFlow yang merupakan standar milik SDN. Simulator ini dapat menjalankan host, switch, link, controller dan perangkat lain yang dibutuhkan dalam SDN yang kemudian dijalankan menggunakan script dalam bahas Python. Namun Mininet memiliki kekurangan dibandingkan simulator lain yaitu masih belum mampu untuk menghasilkan performa dan kualitas yang sama seperti jaringan asli yang disimulasikan, hal ini disebabkan karena Mininet sangat bergantung pada sumber daya yang dimiliki oleh komputer induk yang menjalankan simulasinya 32.
2.2.12.3 GNS3
GNS3 (Graphical Network Simulator 3) adalah perangkat lunak simulasi jaringan yang berbasis open source yang dapat digunakan pada sistem operasi Linux dan Windows. Selain sebagai simulator jaringan GNS3 dapat pula berfungsi sebagai emulator jaringan karena GNS3 menggunakan program bernama Dynagen yang berguna untuk mengemulasi Cisco IOS32. Seperti halnya Packet Tracer yang digunakan pada ujian sertifikasi Cisco, GNS3 biasa digunakan sebagai simulator untuk persiapan ujian sertifikasi professional untuk jaringan komputer oleh perusahaan-perusahaan umum seperti Exxon, Walmart, AT;T, NASA dan lainnya.

Gambar 2. 27 Tampilan antarmuka GNS3
Dibandingkan dengan Cisco Packet Tracer, GNS3 menyediakan fungsi yang jauh lebih kompleks, antara lain dapa menggunakan perangkat selain produk Cisco seperti Mikrotik dan JunOS. Selain itu GNS3 juga dapat terintegrasi dengan perangkat lunak virtualisasi seperti VirtualBox, VMWare dan Qemu jika pengguna hendak menghubungkan server virtual kedalam topologi yang telah dibuat. GNS3 selain berperan sebagai simulator dapat pula berperan sebagai emulator. Hal ini dikarenakan GNS3 memungkinkan topologi jaringan yang berada di dalam simulator untuk terhubung dengan jaringan nyata yang sedang terhubung dengan computer pengguna, sehingga dapat menggantikan peran perangkat asli yang dibutuhkan seperti router jika diinginkan.
Untuk menjalankan GNS3, spesifikasi computer yang dibutuhkan tergantung pada berapa banyak da nada saja perangkat yang disimulasikan sehingga performa dan kualitas yang dihasilkan dari simulasi GNS3 akan sesuai dengan kondiri real 32, semakin besar jaringan yang akan disimulasikan maka akan membutuhkan RAM dan prosesor yang besar.
GNS3 memiliki keterbatasan dalam mensimulasikan produk-produk Cisco, karena perangkat lunak ini bukan dikembangkan oleh Cisco. Saat ini GNS3 baru bisa mensimulasikan beberapa perangkat Cisco seperti router seri 1700, 2600, 2691, 3600, 3640, 3725, 3745 dan 7200, serta Cisco PIX Firewall, Cisco ASA Firewall dan Cisco IDS Sensors. Sedangkan untuk switch Cisco, GNS3 belum bisa mensimulasiknanya 31.
2.2.13 Performa dan Kualitas Jaringan
Performa dan kualitas jaringan dapat diukur menggunakan beberapa parameter, diantaranya adalah bandwidth, throughput dan latency 33. Selain itu terdapat pula jitter dan packet loss yang dapat digunakan sebagai parameter pengukur.
• Bandwidth adalah besarnya kapasitas data yang dapat dibawa oleh suatu medium penghantar data atau jaringan
• Througput adalah nilai rata-rata dari paket yang berhasil dikirim melalui komunikasi jaringan. Througput biasa didefinisikan dengan satuan bits per second (bps) atau data pakets per second 34.
• Latency adalah waktu yang dibutuhkan saat proses pengiriman data dalam suatu jaringan atau kanal komunikasi. Semakin kecil nilai latency suatu jaringan maka semakin baik kualitas jaringannya.
• Packet Loss merupakan jumlah paket yang gagal dalam proses pengiriman paket, semakin kecil nilainya maka semakin baik kualitas jaringan tersebt 35
• Jitter adalah variasi delay yang diakibatkan oleh panjang antrian dalam suatu pengolahan datan dan penyusunan kembali paket data di akhir pengiriman akibat kegagalan sebelumnya 36.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Sumber Data
Penelitian ini menggunakan sumber data untuk mendukung pelaksanaannya, antara lain:
1. Studi literatur dan informasi seperti buku, jurnal, mkalah dan situs-situs internet yang berhubungan dengan penelitian.
2. Hasil diskusi dengan dosen pembimbing dan pihak-pihak ahli di bidang terkait topik penelitian.
3. Sumber informasi dan hasil rapat mengenai IdREN yang diperoleh dari Direktorat Sistem dan Sumber Daya Informasi UGM
3.2 Alat yang digunakan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu perangkat lunak dan perangkat keras.
3.2.1 Perangkat lunak
Penelitian ini menggunakan beberapa perangkat lunak yang mendukung simulasi jaringan, diantaranya adalah GNS3 2.1.0 (Graphic Network Simulator 3), VMWare Workstation 12, Ubuntu Server 14.04 dan Iperf.
1. GNS3, merupakan perangkat lunak yang berbasis open-source yang dapat melakukan simulasi jaringan dalam sebuah perangkat lunak yang dapat terhubung langsung dengan jaringan nyata. GNS3 tidak menyertakan perangkat-perangkat virtual untuk digunakan di dalam aplikasinya, sehingga perangkat virtual tersebut harus diunduh terlebih dahulu dalam bentuk file image dari perangkat yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini dibutuhkan perangkat virtual router Cisco 3660.
2. VMWare merupakan perangkat lunak yang dapat membuat sebuah virtual machine. Dalam penelitian ini VMWare digunakan untuk membuat sebuah server virtual yang terhubung dengan router yang ada pada router yang terdapat di simulator GNS3.
3. Ubuntu Server 14.04 merupakan sistem operasi server yang berbasis open source yang digunakan sebagai sistem operasi untuk server virtual yang telah dibuat menggunakan VMWare.
4. Iperf merupakan perangkat lunak yang dipasang pada server virtual dan digunakan sebagai pembangkit background traffic yang pada topologi IdREN yang dirancang di dalam GNS3 untuk memberikan parameter-paramater agar hasil simulasi mendekati kondisi pada kenyataannya seperti delay, packet loss dan jitter.
3.2.2 Perangakat keras
Perangkat keras yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah laptop. Untuk menjalankan GNS3 dibutuhkan komputer atau laptop dengan spesifikasi minimum sebagai berikut:
Tabel 3. 1 Spesifikasi minimum dan laptop penulis
Spesifikasi Minimum Laptop penulis
Sistem Operasi Windows 7 64bit Windows 10 64bit
Processor dual core Intel Core i5-7200
RAM 4 GB 8 GB
Storage 500 GB 1 TB

3.3 Diagram Alir Penelitian

Penelitian dimulai dengan identifikasi masalah dan studi literature. Identifikasi maslah dilakukan untuk mengidentifikasi masalah yang melatarbelakangi penelitian dan simulasi ini. Setalah masalah diidentifikasi, proses selanjutnya adalah melakukan studi literatur terkait dengan penelitian ini sebagai solusi dari masalah-masalah yang ada. Setelah itu dilanjutkan dengan perancangan topologi yang disimulasikan pada penelitian ini. Setelah merancang topologi, kemudian topologi tersebut diterapkan pada GNS3. Topologi yang dirancang merupakan topologi yang digunakan IdREN berdasarkan literatur yang sudah didapatkan. Kemudian simulasi dilanjutkan dengan mengkonfigurasi tiap router dengan menggunakan routing OSPF dan BGP agar komunikasi antar perangkat dapat terjalin. Selanjutnya ditambahkan 2 buah virtual server dan menambahkan iperf pada server tersebut. Iperf digunakan untuk memberikan background traffic untuk memberikan hasil pemilihan jalur routing yang yang mendekati keadan asli. Kemudian menguji beberapa skenario dimana terdapat beberapa interface gateway yang mati untuk diamati waktu konvergensi routingnya. Setelah itu dianalisis mengenai performa dari waktu konvergensi ini. Setelah pelaksanaan selesai dapat dilakukan penarikan kesimpulan dan penulisan laporan
3.4 Rancangan Topologi Jaringan
IdREN merupakan NREN (National Reasearch and Education Network) yang dimiliki Indonesia yang saat ini masih dalam tahap pengembangan. Jaringan ini menghubungkan jaringan-jaringan lokal universitas anggota IdREN di seluruh Indonesia. IdREN bertujuan untuk pertukaran informasi penelitian maupun pendidikan.
IdREN memiliki 5 router gateway yang dimiliki 5 universitas penggagas dan 1 router gateway yang dimiliki PT. Telekomunikasi Indonesia yang berperan sebagai border router yang dimana tiap border tersebut akan terhubung dengan node dimiliki oleh universitas lain yang ingin terhubung ke dalam jaringan IdREN. Setiap node yang dimiliki universitas memiliki nomor AS-nya masing-masing yang digunakan sebagai dasar routing menggunakan BGP. Topologi jaringan IdREN yang dirancang di dalam software GNS3 adalah sebagai berikut

3.5 Rancangan Pengalamatan Jaringan
Pada penerapannya saat ini IdREN masih menggunakan IPv4 namun dalam pengembangannya IdREN akan menggunakan pengalamatan dengan IPv6. Sehingga pada penelitian ini simulasi jaringan IdREN menggunakan pengalamatan IPv6. Berikut adalah gambar dan tabel pengalamatan pada setiap interface perangkat berdasarkan topologi IdREN.

Tabel 3. 2 Pengalamatan IPv6 pada tiap interface
Nomor AS Router Interface Alamat IP
18007 ITB-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::1:1
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::6:1
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::11:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::13:1
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::7:1
Serial2/1 2001:8000:10:2::1
Serial2/2 2001:8000:10:1::1
Loopback 1 2001::10
UGM-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::1:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::12:1
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::14:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::8:1
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::2:1
Serial2/1 2001:8000:10:3::1
Loopback 1 2001::12
UI-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::2:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::7:2
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::15:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::9:1
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::3:1
Serial2/1 2001:8000:10:5::1
Serial2/2 2001:8000:10:4::1
Loopback 1 2001::11
UB-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::8:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::13:2
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::10:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::4:1
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::3:2
Serial2/1 2001:8000:10:6::1
Loopback 1 2001::14
TELKOM-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::14:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::11:2
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::5:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::4:2
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::9:2
Serial2/1 2001:8000:10:9::1
Serial2/2 2001:8000:10:8::1
Loopback 1 2001::13
Ethernet3/0 10:10:10:2::1
ITS-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::12:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::6:2
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::5:2
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::10:2
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::15:2
Serial2/1 2001:8000:10:11::1
Loopback 1 2001::15
4796 ITB Serial1/0 2001:8000:10:1::2
USU Serial1/0 2001:8000:10:2::2
45705 UGM Serial1/0 2001:8000:10:3::2
Serial1/1 1000::2
UGM-Core Serial1/0 1000::1
Ethernet2/0 1001::1
UGM-Server Eth0 1001::2
3382 UI Serial1/0 2001:8000:10:4::2
UNTAN Serial1/0 2001:8000:10:5::2
46019 UB Serial1/0 2001:8000:10:6::2
64302 UNDIP Serial1/0 2001:8000:10:8::2
UNY Serial1/0 2001:8000:10:9::2
Telkom-Server Eth0 10:10:10:2::2
38331 ITS Serial1/0 2001:8000:10:11::2
3.6 Konfigurasi OSPF
Jaringan IdREN terdiri dari router 5 router gateway milik universitas penggagas IdREN dan 1 router milik PT.Telekomunikasi Indonesia yang berperan sebagai penyedia layanan. Keenam router ini saling terhubung menggunakan topologi mesh. Keenam router ini diberikan sebuah protokol IGP agar semua jaringan yang terdapat pada router IdREN dapat saling berkomunikasi menggunakan protokol IGP. Protokol yang digunakan adalah OSPF.
Untuk menjalankan OSPF pada router, tiap router diberikan Router-ID, dan Process-ID. Berikut adalah konfigurasi di tiap routernya:
Tabel 3. 3 Konfigurasi Process-ID dan Router-ID
ITB-IdREN #ipv6 router ospf 10
#router-id 10.10.10.10
UI-IdREN #ipv6 router ospf 11
#router-id 11.11.11.11
UGM-IdREN #ipv6 router ospf 12
#router-id 12.12.12.12
Telkom-IdREN #ipv6 router ospf 13
#router-id 13.13.13.13
UB-IdREN #ipv6 router ospf 14
#router-id 14.14.14.14
ITS-IdREN #ipv6 router ospf 15
#router-id 15.15.15.15

Selanjutnya untuk menambahkan area dan interface yang dimasukkan dalam OSPF database dapat dilakukan dengan cara mengkonfigurasi pada tiap interface routernya sebagai berikut:
Tabel 3. 4 Konfigurasi interface OSPF
Router Interface Alamat IP
ITB-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 10 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 10 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 10 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 10 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 10 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 10 area 0
UI-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 11 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 11 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 11 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 11 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 11 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 11 area 0
UGM-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 12 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 12 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 12 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 12 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 12 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 12 area 0
Telkom-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 13 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 13 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 13 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 13 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 13 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 13 area 0
UB-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 14 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 14 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 14 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 14 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 14 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 14 area 0
ITS-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 15 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 15 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 15 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 15 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 15 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 15 area 0

3.7 Rancangan Konfigurasi BGP
Jaringan IdREN merupakan gabungan dari berbagai macam jaringan yang memiliki nomor AS berbeda, dimana router-router dengan nomor AS berbeda tidak dapat melakukan komunikasi data tanpa adanya routing yang dapat berkomunikasi antar AS. Routing yang dapat melakukan komunikasi antar AS adalah BGP. Pada AS berbeda eBGP akan menjalankan proses routing agar dapat berkomunikasi, sedangkan di dalam AS iBGP yang akan menjalankan proses routing agar informasi dari luar AS dapat berjalan.
3.6.1 Konfigurasi iBGP pada Border Router
iBGP dikonfigurasikan pada router-router border yang memiliki AS yang sama. Pada simulasi ini router IdREN memiliki AS yang sama yaitu bernomor AS 18007. Router-router tersebut merupakan 5 router milik universitas penggagas dan 1 router milik PT. Telekomunikasi Indonesia. Router-router tersebut antara lain UGM-IdREN, ITB-IdREN, Telkom-IdREN, ITS-IdREN, UB-IdREN dan UI-IdREN. Berikut adalah perintah yang digunakan pada CLI router IdREN:
UGM-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 12.12.12.12
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::10 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 12
ITB-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 10.10.10.10
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 10
ITS-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 15.15.15.15
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::10 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 15
Telkom-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 13.13.13.13
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::10 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 13
UB-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 14.14.14.14
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::10 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 14
UI-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 11.11.11.11
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::10 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 11

Tiap router memiliki router-id yang berbeda sebagai identitas saat router-router tersebut mengirimkan informasi routing table ke router lainnya. Karena pada jaringan IdREN menggunakan topologi mesh dimana seluruh router terhubung secara langsung satu sama lain, maka seluruh router IdREN merupakan neighbor bagi router lainnya.
3.6.1 Konfigurasi eBGP pada seluruh Router
Jaringan IdREN tidak hanya memiliki satu AS, IdREN terdiri dari beberapa AS berbeda yang saling terhubung. Oleh karena itu dibutuhkan routing eBGP untuk menghubungkan AS yang berbeda. Pada simulasi ini tiap universitas memiliki nomor AS nya masing-masing dan dikonfigurasikan eBGP agar antar AS dapat saling bertukar informasi. Berikut adalah perintah untuk konfigurasi eBGP pada seluruh router:
UGM-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:3::2 remote-as 45705
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:3::2 activate
#network 2001:8000:10:3::/64
UGM #router bgp 45705
#bgp router-id 22.22.22.22
#neighbor 2001:8000:10:3::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:3::1 activate
#network 2001:8000:10:3::/64
ITB-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:1::2 remote-as 4796
#neighbor 2001:8000:10:2::2 remote-as 55697
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:1::2 activate
#neighbor 2001:8000:10:2::2 activate
#network 2001:8000:10:1::/64
#network 2001:8000:10:2::/64
ITB #router bgp 4796
#bgp router-id 30.30.30.30
#neighbor 2001:8000:10:1::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:1::1 activate
#network 2001:8000:10:1::/64
USU #router bgp 55697
#bgp router-id 20.20.20.20
#neighbor 2001:8000:10:2::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:2::1 activate
#network 2001:8000:10:2::/64
ITS-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:11::2 remote-as 38331
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:11::2 activate
#network 2001:8000:10:11::/64
ITS #router bgp 38331
#bgp router-id 5.5.5.5
#neighbor 2001:8000:10:11::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:11::1 activate
#network 2001:8000:10:11::/64
Telkom-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:8::2 remote-as 46049
#neighbor 2001:8000:10:9::2 remote-as 55674
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:8::2 activate
#neighbor 2001:8000:10:9::2 activate
#network 2001:8000:10:8::/64
#network 2001:8000:10:9::/64
UNDIP #router bgp 46049
#bgp router-id 23.23.23.23
#neighbor 2001:8000:10:8::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:8::1 activate
#network 2001:8000:10:8::/64
UNY #router bgp 55674
#bgp router-id 33.33.33.33
#neighbor 2001:8000:10:9::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:9::1 activate
#network 2001:8000:10:9::/64
UB-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:6::2 remote-as 46019
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:6::2 activate
#network 2001:8000:10:6::/64
UB #router bgp 46019
#bgp router-id 6.6.6.6
#neighbor 2001:8000:10:6::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:6::1 activate
#network 2001:8000:10:6::/64
UI-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:4::2 remote-as 3382
#neighbor 2001:8000:10:5::2 remote-as 55687
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:4::2 activate
#neighbor 2001:8000:10:5::2 activate
#network 2001:8000:10:4::/64
#network 2001:8000:10:5::/64
UI #router bgp 3382
#bgp router-id 31.31.31.31
#neighbor 2001:8000:10:4::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:4::1 activate
#network 2001:8000:10:4::/64
UNTAN #router bgp 55687
#bgp router-id 21.21.21.21
#neighbor 2001:8000:10:5::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:5::1 activate
#network 2001:8000:10:5::/64

3.8 Konfogirasi Cost OSPF
OSPF merupakan protokol link-state yang menggunakan cost/metric sebagai acuan dalam membuat shortest path tree. Pada simulasi ini interface pada Telkom-IdREN diberikan nilai cost paling kecil diantara router lain untuk melihat pengaruhnya terhadap EGP. Berikut adalah konfigurasi yang dilakukan untuk memberikan cost pada OSPF:
Tabel 3. 5 Konfigurasi cost OSPF
Router Interface Alamat IP
ITB-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 12
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 12
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
UI-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 10
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 13
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
UGM-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 10
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 13
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
Telkom-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 10
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 10
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
UB-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 10
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 13
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
ITS-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 13
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 13
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200

Gambar 3. 4 Topologi cost OSPF
3.9 Konfigurasi Atribut Weight
BGP merupakan routing protocol yang bekerja berdasarkan Policy Based Routing. Administrator dapat menentukan pemilihan jalur yang dilewatinya sesuai dengan kondisi spesifikasi tiap gateway. Pada simulasi kali ini router UB-IdREN diberikan weight paling besar, sebesar 32768 dan jalur lainnya sebesar 20000. Berikut ini adalah tabel konfigurasi weight pada router untuk setiap neighbor nya.

Tabel 3. 6 Konfigurasi atribut weight
Router Router Neighbor Command
ITB-IdREN UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
UGM-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
UI-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
UB-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
Telkom-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
ITS-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000

3.10 Konfigurasi Atribut Local preference
Selain atribut weight proses pemilihan jalur routing dapat pula berdasarkan atribut local preference, dengan kondisi 2 atau lebih jalur yang memiliki nilai atribut weight yang sama sehingga di perlukan parameter lain untuk menentukan jalur mana yang akan digunakan sebagai jalur pengganti saat jalur utama mati. Berikut adalah konfigurasi atribut local preference pada tiap router, berbeda dengan atribut weight yang harus ditentukan pada tiap neighbor, atribut local preference hanya dikonfigurasikan pada tiap router-nya saja.
Tabel 3. 7 Konfigurasi atribut local preference
Router Command
ITB-IdREN #bgp default local-preference 500
UGM-IdREN #bgp default local-preference 500
UI-IdREN #bgp default local-preference 500
UB-IdREN #bgp default local-preference 700
Telkom-IdREN #bgp default local-preference 600
ITS-IdREN #bgp default local-preference 500

3.11 Rancangan Traffic Generator dalam Topologi
Pada simulasi ini juga ditambahkan parameter traffic agar hasil mendekati pada kondisi real. Pada topologi agan di tambahkan 2 node yang merupakan 2 buah server virtual yang berada pada ujung node UGM dan node TELKOM. Server virtual tersebut diciptakan melalui perangkat lunak VMWare, yang kemudian menjalankan kan program Iperf sebagai aplikasi traffic generator. Kedua VM saling berkomunikasi selama simulasi berlangsung dan mengirimkan paket sebesar 10Mbps dengan bandwidth 100Mbps.

Gambar 3. 5 Iperf Client
3.12 Rancangan Pengujian
Pada penelitian ini dilakukan pengujian untuk melihat proses pemilihan jalur routing saat sebelum dan sesudah menerapkan routing policy dan cost. Kemudian akan dilakukan pengujian saat proses pemilihan jalur berubah ketika salah satu interface dimatikan untuk menguji proses failover.
Tabel 3. 8 Rancangan pengujian
Traceroute Cost Atribut Kondisi Normal Failover
Weight LocPref
UI ke ITS – – – V –
UI ke ITS – – – – V
UI ke ITS V – – V –
UI ke ITS V – – – V
UI ke ITS – V V V –
UI ke ITS – V V – V
UI ke ITS V V V V –
UI ke ITS V V V – V

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Simulasi Pemilihan Jalur OSPF default, BGP default
Simulasi pemilihan jalur pada kondisi pertama adalah dengan mengkonfigurasi router pada simulator jaringan IdREN dengan OSPF sebagai IGP dan BGP sebagai EGP. Kedua routing protokol tersebut dikonfigurasi tanpa menambahkan konfigurasi atribut pada BGP dan metric pada OSPF. Pengujian dilakukan dengan melakukan perintah traceroute untuk mengamati jalur yang dilewati dari router UI menuju router ITS. Pada simulasi ini dilakukan dua skenario, skenario pertama adalah ketika semua router bekerja dengan kondisi normal atau semua interface pada router dalam keadaan hidup dan skenario kedua adalah ketika salah satu interface pada router diubah kondisinya menjadi mati sehingga jalur tersebut tidak dapat digunakan.
4.1.1 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal
Pada skenario pertama dilakukan simulasi dengan kondisi seluruh router berfungsi normal kemudian diamati jalur yang dilewati dari router UI ke router ITS. Untuk melihat jalur yang dilewati dilakukan memasukkan perintah traceroute dari router UI dengan alamat interface serial1/0 milik router ITS. Berikut adalah hasil traceroute-nya:

Gambar 4. 1 Traceroute router UI ke ITS
Terlihat pada gambar 4.1 di atas bahwa rute pertama yang di tuju adalah interface router yang memiliki alamat 2001:8000:10:4::1 milik router UI-IdREN. Kemudian menuju alamat 2403:8000:10:FFFE::15:2 milik router ITS-IdREN dan terakhir menuju alamat 2001:8000:10:11::2 milik router ITS. Untuk melihat routing yang digunakan adalah dengan perintah “show ipv6 route” ditambahkan dengan alamat tujuan. Berikut adalah hasil dari perintah tersebut:

Gambar 4. 2 Tabel routing UI menuju ITS
Pada gambar 4.2 di atas terlihat bahwa router UI mendapatkan informasi routing network 2001:8000:10:11::/64 melalui interface Serial1/0 milik router UI. Routing ini memiliki nilai Administrative distance sebesar 20. Nilai ini merupakan nilai default untuk eBGP. Untuk melihat jalur yang BGP yang dipilih untuk menuju interface 2001:8000:10:11::2 digunakan perintah “show ip bgp ipv6 unicast alamat_interface_yang_dituju/prefix” atau dapat pula ditambahkan perintah “l (longer-prefixes)”. Hasil dari kedua perintah tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4. 3 BGP routing table router UI

Gambar 4. 4 BGP routing table longer-prefix router UI
Pada gambar 4.4 di atas dapat dilihat bahwa untuk mencapai network 2001:8000:10:11::/64 router dapat melalui interface yang ditunjukkan pada Next hop. Pada kondisi ini router UI akan menuju interface 2001:8000:10:4::1 milik UI-IdREN untuk menuju network 2001:8000:10:11::/64. Selain itu dapat dilihat pula path yang dilalui untuk mencapai tujuan adalah melalui AS 18007 yang merupakan AS IdREN.
Selanjutnya routing akan diamati pada router yang memiliki interface 2001:8000:10:4::1 yaitu router UI-IdREN. UI-IdREN mengenal network 2001:8000:10:11::2/64 melalui routing protokol BGP. Hal ini dapat dilihat dari gambar berikut:

Gambar 4. 5 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS
Router UI-IdREN mendapatkan informasi mengenai network 2001:8000:10:11::/64 melalui interface 2001::15 yang merupakan interface loopback milik ITS-IdREN dan memiliki administrative distance sebesar 200. Nilai ini merupakan nilai default untuk iBGP. Selanjutnya untuk melihat interface yang dituju oleh router UI-IdREN menggunakan perintah “show ip bgp ipv6”. Hasil dari perintah tersebut dapat dilihat dari gambar berikut:

Gambar 4. 6 tabel routing BGP UI-IdREN
Pada gambar 4.6 di atas terlihat bahwa untuk mencapai interface 2001::15 terdapat 6 jalur. Namun untuk UI-IdREN jalur terbaik yang dapat dilewati adalah jalur yang melalui interface lokal yang didapat dari routing OSPF. Jalur ini dipilih karena memiliki bobot weight yang paling tinggi yaitu 32768, bobot tersebut merupakan bobot default yang didapatkan ketika menggunakan perintah “redistribute” pada saat konfigurasi BGP. Untuk melihat jalur yang digunakan dapat dilihat dengan perintah “show ipv6 route 2001::15” dan hasilnya dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 4. 7 tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.7 di atas terlihat UI-IdREN untuk mencapai interface 2001::15 menggunakan jalur serial1/2 yang didapatkan dari routing OSPF. Hal ini dapat dilihat bahwa metric yang digunakan pada OSPF dan BGP adalah sama yaitu 64. Informasi routing ini kemudian diredistribusikan ke routing protokol BGP dengan perintah “Redistribute OSPF process_ID”. Hal ini lah yang menyebabkan weight pada jalur ini bernilai 32768.

Gambar 4. 8 tabel routing ITS-IdREN menuju ITS
Setelah melawati router ITS-IdREN, untuk menuju router ITS hanya melalui satu jalur yaitu melalui serial2/1 yang tehubung secara langsung dengan network 2001:8000:10:11::/64.

Alamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2
2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::15:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITS-IdREN ITS
Tabel 4. 1 Jalur yang dilalui router UI menuju router ITS

4.1.2 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover
Simulasi selanjutnya dilakukan dengan skenario ketika salah satu interface router mati dengan konfigurasi BGP dan OSPF default atau tanpa mengkonfigurasi atribut BGP dan cost/metric OSPF. Pada skenario ini, interface yang dimatikan adalah interface serial2/0 milik router ITS-IdREN. Interface ini merupakan interface yang terhubung langsung dengan interface milik router UI-IdREN. Waktu rata-rata konvergensi BGP yang dibutuhkan untuk proses failover pada skenario ini adalah 38,532 detik sedangkan untuk waktu rata-rata konvergensi OSPF adalah 30,4743 detik yang didapatkan dari 6 kali percobaan pernghitungan waktu konvergensi, dengan screenshot hasil debug terdapat dalam lampiran.

Tabel 4. 2 Waktu konvergensi OSPF
Percobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 05:40,359 – 06:10,467 30,108
2 23:50,175 – 24:18,263 28,088
3 32:15,432 –32:50,785 35,353
4 40:27,628-40:45,209 27,581
5 47:56,657 – 48:26,635 29,978
6 55:34,007 – 56:05,745 31,738
Rata-rata 30,4743

Tabel 4. 3 Waktu konvergensi BGP
Percobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 05:30,003 – 06:09,263 39,26
2 23:39,859 – 24:23,819 33,96
3 32:05,473 –32:45,871 40,398
4 40:16,862-40:53,785 36,923
5 47:16,024 – 47:56,128 39,888
6 55:24,534 – 56:05,302 40,768
Rata-rata 38,532

Selanjutnya adalah mengamati jalur yang dipilih dengan melakukan traceroute dari router UI menuju alamat yang sama seperti percobaan sebelumnya, yaitu 2001:8000:10:11::2 yang merupakan alamat interface1/0 milik router ITS. Berikut adalah hasil dari perintah “traceroute”:

Gambar 4. 10 Traceroute router UI menuju router ITS
Pada gambar 4.10 terlihat bahwa jalur yang pertama dilewati masih tetap sama yaitu melalui 2001:8000:10:4::1 yang dimiliki router UI-IdREN. Hal ini dikarenakan hanya ada satu jalur yang dapat dilewati UI. Kemudian untuk melihat routing yang digunakan dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route. Berikut adalah hasilnya:

Gambar 4. 11 Tabel routing router UI menuju ITS
Pada tahap ini hasil yang didapatkan masih sama seperti percobaan sebelumnya dikarenakan hanya dapat melalui satu jalur, yaitu melalui serial1/0 yang memiliki alamat IP 2001:8000:10:4::2. Informasi routing tersebut didapatkan router UI melaui routing BGP. Sehingga untuk mengetahui jalur selanjutnya dapat digunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast. Berikut adalah hasil dari perintah tersebut:

Gambar 4. 12 tabel routing BGP UI menuju ITS
Pada Gambar 4.12 di atas dapat terlihat untuk mencapai jaringan 2001:8000:10:11::/64 router UI dapat melalui interface 2001:8000:10:4::1 dengan AS Path 18007 yang dimiliki router IdREN.

Gambar 4. 13 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju ITS
Selanjutnya pada UI-IdREN dilakukan hal yang sama pula yaitu melihat next hop yang akan digunakan untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2. Berdasarkan gambar 4.13 di atas, untuk mencapai network 2001:8000:10:11::/64 adalah melalui interface 2001::15. Selanjutnya dilakukan perintah show ip bgp ipv6 unicast kembali dengan tujuan interface 2001::15. Berikut adalah hasil yang didapatkan:

Gambar 4. 14 tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.14 di atas dapat terlihat bahwa hasil yang didapatkan hampir sama seperti pada simulasi pertama namun terdapat perbedaan pada metric yang digunakan pada kondisi failover, metric yang digunakan adalah 128. Hal ini dikarenakan, untuk mencapai interface 2001::15, Router UI-IdREN harus melalui 2 jalur terlebih dahulu agar dapat mencapai interface 2001::15. Untuk membuktikannya dapat digunakan perintah traceroute dan show ipv6 route dengan tujuan 2001::15. Berikut adalah hasil dari kedua perintah tersebut:

Gambar 4. 15 Traceroute UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN

Gambar 4. 16 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.16 di atas terlihat bahwa untuk mencapai interface 2001::15 UI-IdREN harus melalui 2 jalur agar dapat mencapai alamat 2001::15. Pada jalur pertama terdapat 3 pilihan jalur tercepat yang dapat dilewati untuk mencapai interface 2001::15. Jalur tersebut adalah melalui serial1/0, serial1/3 dan serial1/1 seperti yang terlihat pada gambar 4.16. Informasi routing ini didapat melalui routing OSPF. Sehingga secara default satu jalur yang dilewati memiliki nilai metric sebesar 64. Pada tahap ini akan diumpamakan jika jalur yang dipilih adalah 2403:8000:10:FFFE::7:1 sebagai jalur terbaik. Sehingga router yang dituju selanjutnya adalah router ITB-IdREN. Selanjutnya kembali diamati jalur yang digunakan router ITB-IdREN untuk mencapai alamat 2001::15. Berikut adalah hasilnya:

Gambar 4. 17 tabel routing ITB-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.17 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001::15 router ITB-IdREN dapat melalui serial1/1 dengan metric 64. Hal ini membuktikan bahwa jalur yang dilewati hanya 1 kali yaitu melalui serial 1/1 melalui router ITB. Kemudian dapat dilihat pula perubahan metric yang dilalui pada routing BGP dengan menggunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan 2001::15

Gambar 4. 18 Tabel routing BGP ITB-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.18 di atas terlihat bahwa jalur terbaik yang digunakan memiliki bobot sebesar 32768. Hal ini menandakan bahwa route-map didapatkan dari perintah redistribute OSPF sehingg metric yang digunakan sama seperti metric yang dimiliki router ITB-IdREN untuk mencapai alamat 2001::15 yang berada pada router ITS-IdREN.

Gambar 4. 19 Tabel routing BGP ITS-IdREN menuju ITS
Selanjutnya pada router ITS-IdREN dilakukan pengamatan pada hasil show ip bgp ipv6 unicast. Hasil nya masih sama seperti pada kondisi sebelumnya. Hal ini dikarenakan hanya satu jalur yang dapat dilalui router ITS-IdREN untuk menuju router ITS. Pada gambar 4.19 kembali terlihat bahwa jalur terbaik yang digunakan menggunakan bobot 32768 namun menggunakan metric 0. Hal ini dikarenakan bahwa route-map didapatkan dari perintah redistribute connected sehingga mendapatkan bobot 32768 dan metric bernilai 0. Untuk membuktikannya dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2. Berikut adalah hasil yang didapatkan:

Gambar 4. 20 tabel routing ITS-IdREN menuju ITS

Pada gambar 4.20 di atas terlihat bahwa untuk mencapai interface dengan alamat 2001:8000:10:11::2, router ITS-IdREN dapat melalui interface serial2/1 dengan metric 0.
Tabel 4. 4 Jalur yang dilewati router UI menuju router ITS
Alamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 3
2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::7:1 2403:8000:10:fffe::6:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITB-IdREN ITS-IdREN ITS

4.2 Simulasi Pemilihan Jalur dengan adanya cost pada OSPF dan default BGP
Simulasi pemilihan jalur selanjutnya menggunakan konfigurasi yang sama seperti pada simulasi yang dilakukan pertama kali namun menambahkan konfigurasi cost OSPF pada router IdREN dan BGP masih menggunakan konfigurasi default tanpa adanya atribut. Pengujian dilakukan dengan melakukan perintah traceroute untuk mengamati jalur yang dilewati dari router UI menuju router ITS. Pada simulasi kedua ini dilakukan pula dua skenario, skenario pertama adalah ketika semua router bekerja dengan kondisi normal dan skenario kedua adalah ketika salah satu interface pada router ITS diubah kondisinya menjadi mati sehingga jalur tersebut tidak dapat digunakan.
4.2.1 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal
Skenario pertama adalah mengamati pemilihan jalur ketika semua router berada pada kondisi normal. Jalur yang diamati adalah jalur dari router UI menuju router ITS. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan printah traceroute dengan tujuan alamat interface router ITS yaitu 2001:8000:10:11::2. Berikut adalah hasilnya:

Gambar 4. 22 Traceroute dari router UI menuju router ITS
Pada gambar 4.22 di atas terlihat bahwa hasil yang didapat masih sama seperti percobaan pertama ketika OSPF dan BGP dikonfigurasikan secara default. Router UI akan menuju alamat 2001:8000:10:4::1 yang merupakan alamat interface serial2/1 dari router UI-IdREN. Selanjutnya untuk mengetahui routing yang digunakan oleh router UI untuk mencapai alamat router ITS adalah dengan menggunakan perintah show ipv6 route, berikut adalah hasil yang didapat dari perintah tersebut:

Gambar 4. 23 Tabel routing UI menuju ITS
Pada gambar 4.23 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2, router UI menggunakan routing BGP dengan nilai administrative distance sebesar 20. Nilai ini merupakan nilai administrative distance untuk routing eBGP. Selain itu dapat dilihat pula untuk mencapai network 2001:8000:10:11::/64 router UI akan melalui interface serial1/0 milik router UI yang memiliki alamat 2001:8000:10:4::2 yang terhubung langsung (directly connected) dengan alamat 2001:8000:10:4::1 yang dimiliki router UI-IdREN.

Gambar 4. 24 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS
Pada router UI-IdREN kembali dilakukan pengamatan terhadap hasil dari perintah show ipv6 route yang hasilnya dapat dilihat pada gambar 4.24 di atas. Terlihat pada gambar bahwa router UI-IdREN mengenal jaringan 2001:8000:10:11::/64 melalui routing BGP dengan nilai administrative distance sebesar 200. Nilai ini merupakan nilai administrative distance untuk iBGP. Selain itu dapat diketahui pula bahwa untuk mencapai network 2001:8000:10:11::/64 router UI-IdREN akan melewati router yang memiliki interface dengan alamat 2001::15. Sehingga untuk mengetahui next hop yang dituju untuk menuju 2001::15 dapat digunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan network 2001::15/128, berikut adalah hasilnya.

Gambar 4. 25 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.25 di atas terlihat bahwa jalur terbaik yang digunakan untuk menuju alamat 2001::15 adalah dengan melalui jalur yang memiliki bobot 32768. Hal ini menandakan bahwa route-map diperoleh melalui perintah “Redistribute”. Selain itu dapat dilihat pula bahwa metric yang digunakan bernilai 13 yang merupakan cost OSPF yang telah dikonfigurasikan pada skenario ini. Untuk melihat routing yang digunakan untuk mencapai alamat 2001::15 dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001::15 sebagai berikut:

Gambar 4. 26 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Dapat dilihat pada gambar 4.26 bahwa UI-IdREN untuk mencapai alamat 2001::15 dapat melalui serial1/2 milik UI-IdREN yang memiliki nilai administrative distance 110 untuk routing OSPF dan metric sebesar 13. Untuk melihat alamat dari serial1/2 dapat digunakan perintah show ipv6 interface brief serial1/2.

Gambar 4. 27 Alamat interface serial1/2 router UI-IdREN
Selanjutnya setelah melewati jalur serial1/2 milik UI-IdREN yang terhubung langsung dengan alamat 2403:8000:10:FFFE::15:2 milik router ITS-IdREN. Selanjutnya dilakukan pengamatan pada router ITS-IdREN. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route pada router ITS-IdREN.

Gambar 4. 28 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS
Pada gambar 4.28 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2 router ITS-IdREN dapat melalui serial2/1 yang memiliki alamat 2001:8000:10:11::1 dan terhubung langsung (directly connected) dengan alamat 2001:8000:10:11::2 milik router ITS.
Alamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2
2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::15:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITS-IdREN ITS

4.2.2 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover
Pada percobaan kedua dilakukan kembali pengamatan kembali terhadap pemilihan jalur yang dilewati router UI menuju router ITS ketika interface serial 2/0 milik ITS-IdREN di matikan. Pada skenario ini waktu rata-rata konvergensi OSPF adalah 30,5246 detik sedangkan waktu rata-rata konvergensi BGP adalah 30,899 detik.

Tabel 4. 5 Waktu konvergensi OSPF
Percobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 05:27,679 – 05:59,359 31,68
2 08:51,531 – 09:19,331 27,8
3 11:52,203 – 12:19,447 27,128
4 16:00,767 – 16:29,379 28,612
5 19:44,443 – 20:19,351 34,908
6 22:36,323 – 23:09,343 33,02
Rata-rata 30,5246

Tabel 4. 6 Waktu konvergensi BGP
Percobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 05:32,603 – 06:03,399 30,796
2 08:56,431 – 09:27,499 31,068
3 11:57,127 – 12:27,519 30,392
4 16:05,715 -16:36,527 30,812
5 19:49,363 – 20:20,507 31,144
6 22:41,291– 23:12,475 31,184
Rata-rata 30,899

Pengamatan terhadap rute yang akan dilewati pertama kali dilakukan pada router UI menggunakan perintah traceroute dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. 30 Traceroute router UI menuju ITS
Pada gambar 4.30 di atas terlihat bahwa untuk mencapai router alamat 2001:8000:10:11::2 milik router ITS, router UI harus melalui 4 jalur. Hasil ini sedikit berbeda dengan percobaan pertama, dimana pada percobaan pertama, proses pemilihan jalur masih terdapat banyak pilihan dikarenakan terdapat lebih dari 1 jalur memiliki nilai metric yang sama. Selanjutnya untuk mengetahui routing yang digunakan router UI mengetahui alamat 2001:8000:10:11::2 adalah dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. 31 Tabel routing router UI menuju ITS
Pada gambar 4.31 di atas terlihat bahwa hasil yang didapatkan dari perintah show ipv6 route masih sama seperti percobaan sebelumnya, hal ini dikarenakan untuk mencapai router ITS hanya terdapat 1 jalur yang dapat dilewati router UI, yaitu melalui serial1/0 yang terhubung langsung dengan interface milik UI-IdREN pada alamat 2001:8000:10:4::1. Kemudian pengamatan berpindah pada router UI-IdREN, pengamatan dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. 32 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS
Hasil yang ditunjukkan gambar 4.32 masih sama seperti pada percobaan sebelumnya. Untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2 router UI-IdREN harus melalui alamat 2001::15. Sehingga dilakukan pengamatan kembali pada router UI-IdREN dengan menggunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan network 2001::15/128 untuk mengetahui next hop dari router UI-IdREN.

Gambar 4. 33 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.33 terlihat bahwa jalur terbaik yang digunakan adalah jalur dengan bobot 32768. Hal ini dikarenakan bahwa route-map didapatkan dari konfigurasi redistribute OSPF. Dapat dilihat pula bahwa metric yang digunakan bernilai 20. Sehingga untuk melihat jalur yang digunakan dapat dilakukan perintah show ipv6 route dengan alamat tujuan 2001::15.

Gambar 4. 34 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.34 di atas terlihat bahwa router UI-IdREN dapat melalui interface serial 1/3 yang memiliki alamat 2403:8000:10:FFFE::9:1 dan terhubung langsung (directly connected) dengan alamat 2403:8000:10:FFFE::9:2 milik Telkom-IdREN dengan nilai metric 20. Nilai metric ini didapatkan karena router UI-IdREN dapat mencapai alamat 2001::15 setelah melalui 2 jalur. Untuk mengetahui jalur selanjutnya dapat dilakukan perintah show ipv6 route pada router Telkom-IdREN dengan tujuan alamat 2001::15.

Gambar 4. 35 Tabel routing Telkom-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Setelah melewati Telkom-IdREN proses routing dilanjutkan melalui interface serial 1/2 milik Telkom-IdREN yang memiliki alamat 2403:8000:10:FFFE::5:1 dan terhubung langsung dengan alamat 2403:8000:10:FFFE::5:2 yang merupakan alamat interface pada router ITS-IdREN. Selanjutnya pada router ITS-IdREN untuk dapat menuju router ITS hanya dapat melalui satu jalur yang terhubung secara langsung melalui interface serial1/2.

Gambar 4. 36 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS
Tabel 4. 7 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS
Alamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 3
2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::9:2 2403:8000:10:fffe::5:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITB-IdREN ITS-IdREN ITS

4.3 Simulasi Pemilihan jalur dengan kondisi OSPF default dan BGP menggunakan atribut weight dan local preference
Simulasi pemilihan jalur pada percobaan ketiga adalah dengan menggunakan konfigurasi yang sama seperti percobaan pertama menggunakan routing OSPF default dan BGP default namun ditambahkan routing policy berupa atribut weight dan local preference pada BGP sebagai penentu dalam pemilihan jalur BGP. Pengujian dilakukan dengan melakukan perintah traceroute untuk mengamati jalur yang dilewati dari router UI menuju router ITS. Pada simulasi ini dilakukan dua kondisi, kondisi pertama adalah ketika semua router bekerja dengan kondisi normal atau semua interface pada router dalam keadaan hidup dan kondisi kedua adalah ketika salah satu interface pada router diubah kondisinya menjadi mati sehingga jalur tersebut tidak dapat digunakan
4.3.1 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal
Skenario pertama adalah mengamati jalur ketika semua router berada pada kondisi normal. Jalur yang diamati adalah jalur dari router UI menuju router ITS. Pengamatan dilakukan dari router UI dengan menggunakan perintah traceroute dengan tujuan alamat interface router ITS yaitu 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. 38 Traceroute router UI menuju router ITS
Pada gambar 4.38 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2 router UI harus melalui 3 jalur. Jalur pertama yang akan dituju adalah alamat router yang dimiliki oleh router UI-IdREN kemudian dilanjutkan ke jalur yang kedua yang dimiliki oleh router ITS-IdREN dan terakhir router dapat menuju router ITS yang beralamat pada 2001:8000:10:11::2. Untuk mengetahui routing yang digunakan oleh router UI untuk mencapai alamat router ITS dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. 39 Tabel routing router UI menuju ITS
Pada gambar 4.39 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2 router UI dapat melalui interface serial1/0 yang memiliki alamat 2001:8000:10:4::2 yang terhubung langsung (directly connected) dengan alamat 2001:8000:10:4::1 yang merupakan alamat interface router UI-IdREN. Selanjutnya pengamatan dilakukan pada router UI-IdREN dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan almat router ITS 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. 40 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS
Router UI-IdREN mendapatkan informasi network 2001:8000:10:11::/64 melalui routing BGP dengan nilai administrative distance sebesar 200 yang merupakan nilai AD untuk iBGP. Kemudian untuk melihat next-hop yang akan dilalui oleh router UI-IdREN untuk mencapai interface 2001::15 dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast.
Gambar 4. 41 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback router ITS-IdREN
Terlihat pada gambar 4.41 untuk mencapai network 2001::15 router UI-IdREN dapat melalui 2 jalur. Namun jalur yang terbaik adalah jalur yang melalui interface 2001::14 yang merupakan interface yang terdapat pada router UB-IdREN yang memiliki nilai local preferences yang lebih besar. Local preferences adalah salah satu atribut yang digunakan sebagai routing policy untuk menentukan jalur terbaik yang digunakan ketika terdapat 2 jalur yang memiliki bobot (weight) yang sama. Namun pada hasil traceroute jalur yang dituju tidak melalui router UB-IdREN melainkan langsung melalui router ITS-IdREN. Hal ini router akan memilih jalur yang berasal dari protokol routing dengan nilai administrative distance (AD) terkecil yaitu directly connected dengan nilai AD 0 dibandingkan dengan iBGP dengan nilai AD 200, manipulasi bobot weight hanya akan berpengaruh pada tabel BGP saja, tetapi dalam proses pemilihan jalur akan tetap mendahulukan jalur dengan nilai AD terendah. Sehingga jalur kedua yang dipilih adalah melalui router ITS-IdREN yang melalui alamat 2403:8000:10:FFFE::15:2.

Gambar 4. 42 Tabel routing ITS-IdREN menuju router ITS
Setelah melalui router ITS-IdREN, jalur selanjutnya adalah alamat router ITS yang hanya dapat dilalui melalui interface serial2/1 yang dimiliki oleh ITS-IdREN yang terhubung langsung dengan router ITS.
Tabel 4. 8 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS
Alamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2
2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::15:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITS-IdREN ITS

4.3.2 Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover
Pada percobaan kedua dilakukan kembali pengamatan terhadap pemilihan jalur yang dilewati router UI menuju router ITS ketika interface serial 2/0 milik ITS-IdREN mati. Pada skenario ini waktu rata-rata konvergensi OSPF adalah 31,786 detik sedangkan rata-rata waktu konvergensi BGP adalah 26,9101 detik.
Tabel 4. 9 Tabel waktu konvergensi OSPF
Percobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 01:20,627 – 01:49,415 28,788
2 05:12,999 – 05:48,183 35,184
3 10:14,695 –10:49,379 34,684
4 15:50,675-16:19,395 28,72
5 25:16,541 – 25:47,417 30,876
6 32:07,876 – 32:40,34 32,464
Rata-rata 31,786

Tabel 4. 10 Tabel waktu konvergensi BGP
Percobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 01:25,567 – 01:49,315 23,748
2 05:17,931 – 05:48,239 30,308
3 10:19,655 –10:49,339 29,684
4 15:55,639-16:19,479 23,84
5 25:21,362 – 25:51,481 30,119
6 32:12,652 – 32:36,414 23,762
Rata-rata 26,9101

Pada skenario kedua masih menggunakan routing OSPF default dan BGP menggunakan atribut weigth dan local preference namun pada simulasi kali ini akan dimatikan salah satu interface ITS-IdREN yaitu interface serial2/0. Pengamatan dilakukan pertama kali pada router UI dengan menjalankan perintah traceroute dengan alamat tujuan router ITS yaitu 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. 44 Traceroute router UI menuju ITS
Pada kondisi failover dengan kondisi OSPF default, router UI dapat menuju alamat 2001:8000:10:11::2 dengan melalui 4 jalur dan pada jalur ke-dua dan ke-3 terdapat beberapa pilihan jalur yang dapat dilewati karena jalur tersebut memiliki nilai metric yang sama besar yaitu 64 pada setiap jalurnya. Jalur pertama yang dituju adalah jalur dengan alamat tujuan interface 2001:8000:10:4::1 yang dimiliki oleh router UI-IdREN. Kemudian untuk melihat next-hop yang dituju router UI-IdREN dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. 45 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS
Untuk menuju interface router ITS, router UI-IdREN mengenal jaringan 2001:8000:10:11::/64 melalui interface 2001::15 dengan menggunakan routing iBGP. Hal ini terlihat pada nila AD sebesar 200. Selanjutnya untuk mengetahui next-hop yang akan dituju oleh router UI-IdREN untuk mencapai alamat 2001::15 digunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast untuk melihat tabel BGP dan jalur terbaik yang dapat dilalui.

Gambar 4. 46 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju router ITS
Pada gambar 4.46 di atas terlihat bahwa terdapat 2 jalur yang memiliki nilai bobot (weight) yang sama yaitu 32768 sehingga proses pemilihan jalur berpindah pada nilai local preferences. Jalur yang melalui interface 2001::14, yang dimiliki router UB-IdREN, dipilih sebagai jalur terbaik karena memiliki nilai local preferences yang lebih besar yaitu 700. Namun pada hasil traceroute, router tidak hanya dapat melalui router UB-IdREN namun dapat melalui router lain karena memiliki nilai metric OSPF yang sama. Pemilihan jalur yang ditampilkan dipilih berdasarkan nilai AD yang paling rendah, dalam hal ini nilai AD dari OSPF adalah 110 dan iBGP adalah 200 sehingga jalur yang dipilih adalah jalur milik OSPF. Untuk membuktikannya dapat dilakukan kembali perintah show ipv6 route menuju 2001::15 yang merupakan loopback ITS-IdREN.

Gambar 4. 47 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Pada gambar 4.47 di atas terlihat bahwa untuk menuju alamat 2001::15, router UI-IdREN yang digunakan adalah routing OSPF. Pada simulasi ini cost yang dimiliki OSPF bernilai 64 pada setiap jalurnya, sehingga untuk mencapai alamat 2001::15 dapat melalui 4 jalur yang memiliki cost yang sama salah satunya melalui serial 1/1 yang merupakan interface yang terhubung langsung dengan router ITB-IdREN.
Selanjutnya untuk mengetahui next-hop BGP yang dituju UI-IdREN menuju alamat 2001::14 yang dimiliki oleh router UB adalah dengan menggunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan 2001::14

Gambar 4. 48 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback UB-IdREN
Terlihat pada gambar 4.48 di atas bahwa terdapat 2 jalur yang dapat digunakan menuju alamat 2001::14 yang memiliki nilai weight sebesar 32768. Namun jalur terbaik yang dipilih adalah jalur dengan nilai local preference yang lebih besar yang bernilai 700. Terlihat bahwa metric pada jalur terbaik sebesar 0 hal ini karena IGP yang digunakan adalah jalur dengan menggunakan routing Directly Connected.
Selanjutnya pengamatan routing dilakukan pada router ITS-IdREN dengan menggunakan perintah show ipv6 route.

Gambar 4. 49 Tabel routing ITS-IdREN menuju router ITS
Pada router ITS-IdREN hanya terdapat satu jalur yang menuju router ITS. Jalur tersebut menggunakan routing